Cerita Sex 2016 Pemerkosaan Diruang Perpustakaan
Cerita Sex 2016 Pemerkosaan Diruang Perpustakaan

Cerita Sex 2016 Pemerkosaan Diruang Perpustakaan

Posted on

Cerita Sex 2016 Pemerkosaan Diruang Perpustakaan – Doy tidak sedikitpun berniat untuk belajar atau membaca buku waktu dia ke perpustakaan kampus, kuliah aja dia jarang masuk. Dia bermaksud untuk tidur, karena biasanya perpustakaan kampus, pada jam jam mendekati tutup sudah sepi, paling satu dua orang yang datang.

Cerita Sex 2016 Pemerkosaan Diruang Perpustakaan Cerita Sex 2016 Pemerkosaan Diruang Perpustakaan Cerita Sex 2016 Pemerkosaan Diruang Perpustakaan Cewek Sexy023
Cerita Sex 2016 Pemerkosaan Diruang Perpustakaan

cerita sex 2016 Pemerkosaan Diruang Perpustakaan – Doy kemudian mengambil beberapa buku yang besar dan tebal dan mengambil tempat di meja paling ujung. Tapi baru saja ia hendak memejamkan mata, pandangannya terganggu oleh sebuah pemandangan. Di meja pustakawati, duduk seorang mbak2 cantik berumur sekitar 20an akhir dengan kaki indah yang terbalut jeans ketat, pantatnya terlihat padat, rambutnya yang panjang terurai ke belakang, kulit putih, bibir seksi, dan kemeja putih yang dia pakai membuat dia tampak elegan, apalagi buah dadanya terlihat sangat menonjol di balik kemeja putih tersebut. Saking ketatnya kemeja putih yang dipakai, terlihat juga cetakan bra yang dikenakan mbak2 itu.

 

cerita sex 2016 Pemerkosaan Diruang Perpustakaan – Sontak tongkol Doy langsung menegang melihat mbak2 di depannya. Walaupun Doy sering ke perpustakaan, dia hampir tidak pernah memperhatikan sekelilingnya, karena terlalu berkonsentrasi untuk tidur. Padahal pustakawati ini terhitung sudah cukup lama menjadi staf di kampus. Mbak2 ini sedang sibuk dengan catatan pembukuan dan daftar, sehingga tak sadar sedari tadi Doy menatapnya penuh nafsu. Doy sendiri membuka resleting jeansnya, kemudian memperosotkan jeans dan boxernya hingga sebatas lutut, mengeluarkan tongkolnya yang sudah sangat tegang sehingga berdiri tegak luar biasa, kemudian mengocok tongkolnya di bawah meja, sambil terus memperhatikan si mbak2 itu. Karena berada di meja paling ujung, tidak ada orang yang memperhatikan Doy beraksi. Hingga sepuluh menit lamanya, Doy memanjakan tongkolnya. Saat mau muncrat, Doy berdiri dari kursinya, menghadap ke meja pustakawati seakan-akan membidik mbak2 itu dengan peluru spermanya. Doy pun muncrat cukup jauh hingga melewati meja Doy sendiri. Sebenarnya, dengan posisi demikian, mbak2 tersebut dapat melihat Doy dengan jelas karena kebetulan meja Doy dan meja pustakawati berada dalam satu garis lurus, tetapi konsentrasi mbak2 ini sangat kuat sehingga tidak memperhatikan Doy. Doy segera terduduk kembali untuk beristirahat dari onaninya.

Cerita Sex 2016 Pemerkosaan Diruang Perpustakaan – Kurang lebih setengah jam kemudian mbak2 itu beranjak menuju salah satu rak buku. Doy pun segera bereaksi dengan memasukkan kembali tongkolnya dan memakai jeansnya kembali. Setelah itu Doy memperhatikan sekitarnya. Setelah dirasa aman tanpa terlihat orang lain, Doy kemudian mengikuti mbak2 itu ke rak buku yang dituju. Perlahan Doy mengendap, kemudian melihat mbak2 itu sedang mengatur letak buku-buku yang berantakan di bagian atas rak.

Karena kebetulan rak buku tersebut terletak sangat ujung, tidak jauh dari meja Doy, dan juga sangat jarang sekali dikunjungi orang (biasanya orang2 lebih sering ke rak2 depan hingga tengah), Doy tau kesempatan telah datang. Tanpa buang waktu lagi, Doy langsung menerkam mbak2 itu, menutup mulutnya dengan sebelah tangan dan menarik mbak2 itu ke rak paling ujung dan paling belakang, yang jelas paling sulit terlihat orang. Ia mendorong si mbak2 ke dinding, dan dengan tenaga dan badannya yang besar si mbak2 tak bisa bergerak tertahan.

Si mbak2 mencoba bicara, namun mulutnya tertutup tangan Doy.

“Jangan teriak. Kalau berani mbak bakal menyesal” bisik Doy di telinga si mbak2.

Perlahan Doy melepas bekapannya, si mbak2 kelihatan takut dan terpaku, tangan Doy perlahan meremas pantat si mbak2 yang padat. Si mbak2 hendak menjerit namun karena takut ancaman Doy ia kembali terdiam. Si mbak2 mulai menangis, tapi tangisan itu membuat kecantikan mbak2 itu makin terlihat, ia tidak melawan saat pantatnya di-remas2 Doy. Namun saat Doy hendak menarik lepas kemeja putihnya, ia berontak. Sayangnya tenaga mbak2 itu terlalu lemah, hingga akhirnya Doy pun berhasil melepas kemeja putih itu dengan kasar. Semua kancing kemeja putih itu jatuh berhamburan dan memperlihatkan paksa isi di dalamnya. Ternyata si mbak2 dibalik kemeja putih itu memakai bra berenda berwarna putih. Doy yang memang menyukai wanita2 dengan bra berenda, melihat pemandangan di depannya membuat Doy tersenyum, what a sexy body. Si mbak2 menyilangkan tangannya di dada, sadar jika buah dadanya terlihat jelas.

“Tolong..jangan…saya masih perawan…” si mbak2 memohon
“Siapa nama mbak…cantik?”
“Mel…tolong lepasin saya…saya kasih apa aja..asal lepasin saya….”
“Nama yang indah” kata Doy sambil meremas buah dada Mbak Mel, sempat berontak kemudian Doy mengancam mbak Mbak Mel, “Diam…atau saya harus iket tangan mbak, atau saya bakal panggil temen-temen saya… jangan melawan, mbak cuman layanin saya doang.”

Perlawanan Mbak Mel perlahan melemah, membuat Doy bebas meremas dan meraba payudara Mbak Mel yang masih terbalut bra. Sambil tetap meremas buah dada Mbak Mel, satu tangan Doy membuka kancing jeans Mbak Mel, menurunkan resletingnya, dan menurunkan perlahan jeans tersebut. Ia lihat kebawah, ia lihat Mbak Mel memakai celana dalam putih berenda yang sangat seksi. Ia dengan segera melucuti bra Mbak Mel, dan menarik lepas celana dalam Mbak Mel.

Ia memandangi tubuh Mbak Mel yang indah tanpa selembar benangpun, apalagi rambut hitamnya yang terurai menambah keseksian Mbak Mel. Doy lantas menyuruh Mbak Mel membuka satu persatu pakaian Doy. Mbak Mel yang masih ketakutan pun menurut begitu saja. Setelah Doy telanjang bagian atas, Mbak Mel pun membuka jeans Doy dan menurunkannya. Sudah terlihat sekali di balik boxer Doy benda tumpul keras yang sangat tegang dan tegak. Mbak Mel sekilas ragu untuk menurunkan boxer Doy, tapi Doy memaksa Mbak Mel melakukannya.

“Jangan berhenti mbak…saya janji mbak bakal senang melihat punya saya…”

Menjulang tinggi tongkol Doy yang sepanjang 20 cm. Mbak Mel terkejut dengan ukuran yang sebesar itu, kemudian mulai khawatir apakah tongkol sebesar itu dapat dilayaninya dengan baik. Doy segera menyuruh Mbak Mel berlutut dan mengulum tongkolnya yang besar. Mbak Mel awalnya menolak, meski tongkol Doy terus dipaksakan masuk. Tapi Mbak Mel tetap tak mau membuka mulut, sehingga Doy harus memijit hidung Mbak Mel dengan keras, sehingga mulutnya terbuka, dan dalam sekejap pula ia memasukkan semua tongkolnya ke dalam mulut Mbak Mel. Saking panjangnya, ujung tongkol Doy mengenai tenggorokan Mbak Mel (deep throat). Kemudian dengan paksa Doy meng-gerak2kan kepala Mbak Mel maju mundur. Awalnya Mbak Mel tidak melakukan apapun, namun akhirnya ia mulai memainkan lidahnya, tongkol Doy ia jilati, kadang ia sedot dengan kuat, kadang ia gigiti dengan lembut, membuat Doy mendesis keenakan. Sampai akhirnya ketika Doy menyemprotkan sperma, Mbak Mel terpaksa menelan sperma Doy yang ternyata banyak sekali. Mulut Mbak Mel penuh dengan sperma hingga hampir tidak sanggup menampung seluruhnya.

Ketika giliran Doy menyentuh vagina Mbak Mel ia merasakan vagina tersebut sudah sangat basah.

“Oohhmm..mbak suka juga kan ternyata…dasar muna..”

Muka Mbak Mel terlihat memerah menahan malu. Kini giliran Doy yang berlutut di depan Mbak Mel dan menjilati vagina Mbak Mel. Permainan lidah Doy di vaginanya membuat Mbak Mel merintih, mendesah , dan mengerang, apalagi buah dadanya kembali di remas Doy. Segala suara yang dikeluarkan Mbak Mel lama2 makin kencang, mungkin dapat terdengar hingga meja pustakawati yang terletak di dekat pintu perpustakaan. Tetapi, Doy sudah tidak peduli. Yang penting ia dapat merasakan tubuh Mbak Mel yang sangat seksi. Untungnya pula ternyata sudah tidak ada orang yang berada di perpustakaan selain Doy dan Mbak Mel berdua, sehingga mereka dapat leluasa bermain cinta sepuas-puasnya.

Setelah dirasa cukup basah, Doy membaringkan Mbak Mel di lantai perpustakaan yang dingin, dan tanpa basa basi langsung menusukkan tongkolnya ke vagina Mbak Mel, yang ternyata masih sempit dan memang Mbak Mel masih virgin. Butuh usaha keras bagi tongkol Doy untuk menembusnya, hingga akhirnya seiring jeritan Mbak Mel dan masuknya seluruh tongkol Doy ke vaginanya, darah perawan pun mengalir. Jeritan Mbak Mel sangat keras, namun tidak ada yang mendengar jeritan tersebut, hanya rak-rak buku menjadi saksi bisu terenggutnya keperawanan Mbak Mel.

“Ooohhh..aku udah gak perawan lagi..” sesal Mbak Mel.

Tapi Doy tidak mendengar Mbak Mel. Doy terus mendorong tongkolnya, cepat dan makin cepat. Teriakan, tangisan, erangan, dan rintihan Mbak Mel menjadi stimulus untuknya. Hingga akhirnya Mbak Mel menjerit tanda orgasme, membuat Doy makin semangat, buah dada Mbak Mel bergoyang seirama dengan gerakan maju mundur Doy. Begitu orgasme, Doy sambil puas meremas keras buah dada ranum Mbak Mel, sehingga Mbak Mel menjerit kesakitan. Mbak Mel dan Doy saling orgasme bersamaan, seluruh cairan kewanitaan dan sperma pun bercampur dalam rahim Mbak Mel. Untungnya, hari itu bukan masa subur Mbak Mel sehingga kemungkinan terjadinya kehamilan sangat kecil. Doy pun mengeluarkan tongkolnya yang mengendur kembali, dan melihat vagina Mbak Mel yang banjir sangat banyak oleh spermanya.

Setelah orgasme itu, Mbak Mel terbaring lemah di lantai, masih dalam keadaan telanjang bulat, hanya bisa menangis menyesali keadaannya. Doy yang kembali ke kesadarannya kemudian melihat jam dinding. Ternyata sudah lewat jam tutup dan hari sudah gelap. Sebenarnya Doy sudah ingin pulang karena sudah lapar dan lelah. Tetapi apa daya, Doy menyadari ada mangsa sangat empuk di depannya. Doy lantas berubah pikiran dan memutuskan tetap berada di perpustakaan dan tidak pulang. Doy segera memakai pakaian lengkapnya walaupun tidak rapi, mengambil kunci pintu perpustakaan di kantong jeans Mbak Mel yang tergeletak dan segera berlari ke arah pintu. Ternyata Doy mengunci pintu perpustakaan dari dalam dan menghadapkan tanda bertuliskan TUTUP keluar jendela perpustakaan, mengurung dirinya dan Mbak Mel di dalam tanpa bisa keluar. Doy kemudian menaruh kunci tersebut di salah satu rak buku secara acak, supaya Mbak Mel tidak dapat menemukannya.

Doy kembali mendekati Mbak Mel yang masih terbujur kesakitan dan basah penuh keringat dan sperma. Melihat keadaan Mbak Mel yang seperti itu, Doy menjadi sangat terangsang kembali. Dia segera meminum obat kuat yang biasa dia simpan di tasnya agar terus tegang sepanjang malam. Mbak Mel sebenarnya menolak untuk melayani Doy lagi karena masih kelelahan, tetapi tanpa kasihan Doy menjejali Mbak Mel dengan obat perangsang sehingga Mbak Mel dapat melayani Doy kembali. Doy memperkosa Mbak Mel lagi hingga sepuluh kali semalam suntuk. Mbak Mel terus2an menjerit, mengerang, dan menangis dengan suara keras menahan gempuran Doy. Agar tidak membosankan, Doy memperkosa Mbak Mel di berbagai spot di perpustakaan. Baik di atas maupun bawah meja baca atau meja pustakawati, maupun berdiri menghadap kaca jendela yang disinari lampu dari luar. Semuanya dilakukan tanpa batas, penuh ketelanjangan yang nyata. Doy bahkan sempat mengabadikan perkosaannya dalam kamera hpnya.

Ketika pagi sudah menjelang, sekitar jam enam pagi. Doy meninggalkan Mbak Mel di lantai meja pustakawati dalam keadaan berantakan. Seluruh tubuh Mbak Mel mandi keringat dan sperma, sangat banyak. Mbak Mel sendiri pingsan tak sadarkan diri setelah digempur sepanjang malam. Kemeja, jeans, bra, dan celana dalam milik Mbak Mel di-sobek2 Doy dengan kejam sehingga tidak dapat dipakai kembali oleh Mbak Mel, benar-benar harus telanjang bulat. Doy yang sudah memakai pakaian lengkap membuka pintu perpustakaan, kemudian meninggalkan kunci perpustakaan Mbak Mel di kolong salah satu rak buku. Sebelum pergi, Doy dengan kamera hpnya sempat memotret lagi Mbak Mel yang terbaring, untuk menutup mulut Mbak Mel jika suatu saat ia berani macam2. Akhirnya, Doy benar2 meninggalkan perpustakaan dalam keadaan pintunya terbuka lebar.

Dalam perjalanan Doy tersenyum puas, siapa bilang ke perpustakaan tak ada gunanya……

Incoming search terms:

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *