Cerita Ngentot – Vivi Tergona Cowok Perkasa

Posted on

Cerita Ngentot – Vivi Tergona Cowok Perkasa Cerita Ngentot – Vivi Tergona Cowok Perkasa Cerita Ngentot – Vivi Tergona Cowok Perkasa cantik bispakDidalam hitam ada putih, didalam putih ada hitam. Didalam kebenaran ada kesalahan, dan didalam kesalahan ada kebenaran. Tidak ada yang abadi dan sempurna di dunia ini.

Di tengah kolam berlumpur yang kotor tumbuh sekuntum bunga teratai nan indah dan semerbak. Adakah yang bersedia mengotori dirinya untuk mendapatkan bunga tersebut?

Part one: Pertemuan Pertama
Jakarta, February 1996

Minggu siang, bersama dua orang teman saya, Andi dan Al, kita berjalan-jalan menghabiskan waktu di Mal Ciputra. Andi adalah teman akrab saya sejak kecil, satu SMP, SMA, dan satu universitas. Dia seumur dengan saya, 24 tahun. Sedang Al adalah adik teman kuliah saya. Dia berumur 19 tahun dan kuliah di UT, tetangga Mal Ciputra.

Ketika berada di eskalator menuju lantai 5, tiba-tiba tatapan saya tertuju ke sepasang paha langsing mulus milik seorang cewek yang berada di depan saya. Paha putih mulus tersebut hanya tertutup sedikit di bagian atas oleh rok mini biru tuanya yang berwarna hitam. Karena posisi saya yang berada di bawah, saya bisa melihat celana dalam hitamnya yang mengintip malu-malu di antara kedua pahanya. Terasa degup jantung saya yang semakin cepat. Tiba di lantai 5, saya mempercepat langkah kaki saya untuk menyusul gadis tersebut. Andi dan Al mengikuti saya. Ketika saya berada sejajar dengan gadis tersebut, saya memandang wajahnya, “Oh my god! Cewek yang sangat manis, dengan sepasang matanya begitu bulat dan jernih. Wajahnya begitu mulus dan cantik! dengan rambut hitam tebal panjang, dia terlihat begitu mempesona.”

Saya berjalan terus mengikuti cewek tersebut. Di belakang saya, Andi dan Al sedang mengobrol dan tidak menyadari bahwa saya sedang memperhatikan cewek tersebut. Gadis tersebut berjalan masuk ke Hoka Hoka Bento. Saya menghentikan langkah saya dan menunggu Andi dan Al.

“Makan yuk.. Gua lapar nich..” ajakku yang ternyata disambut gembira oleh mereka. Memang saat itu sudah hampir jam 3 sore dan kita belum makan siang. Selesai memesan makanan, saya mencari meja yang bersebelahan dengan cewek tersebut. Sambil makan saya menatap dia, yang dibalas juga oleh si cewek. “Wah.. nantang ya..” pikir saya selanjutnya. Saya percaya bahwa tatapan mata seseorang itu bisa menceritakan kondisi orang tersebut. Saya bisa membaca ada kesedihan dan kekaguman di sinar matanya. Kesedihan yang tidak saya ketahui alasannya dan kekaguman yang saya kira ditujukan ke saya:) (Buat para petualang yang belum berpengalaman, saran saya adalah memperhatikan tatapan cewek di mana saja kalian berada. Biasanya cewek yang berani melawan tatapan anda adalah petualang juga, buktikanlah).

Cukup lama kita mengadu pandangan, akhirnya dia menunduk dengan wajah memerah. Saya mengambil kesempatan tersebut untuk menurunkan tatapan mata saya ke payudaranya. Kaos hitam tipisnya tidak bisa menyembunyikan tonjolan buah dadanya, “Lumayan cukup besar,” pikir saya.

“Tuh cewek cakep banget Gus, kayaknya lagi memperhatikan kita-kita..” bisik Andi yang duduk di samping saya.
“Mana.. mana..?” tanya Al. Masih polos tuh anak, belum tahu kalau sejak tadi aku sudah mengincar cewek tersebut.
“Yang duduk di meja sebelah.. aduh.. cakepnya.. saya jatuh cinta pada pandangan pertama nih..” kata Andi.

Saya cuma diam dan sedang melanjutkan tatapan saya. Sekali-kali dia membalas tatapan mataku. Sambil makan, saya mengumpulkan keberanian untuk berkenalan. Saat saya sedang mempertimbangkan maju atau mundur, tiba-tiba Andi berjalan ke arah cewek tersebut. Terlihat dia menyapa cewek tersebut dan kemudian terlihat dia mengulurkan tangannya untuk berkenalan.

“Sialan.. saya kecolongan..” pikir saya. Tanpa pikir panjang lagi saya menyusul si Andi.
“.. nunggu temen,” saya mendengar suara si cewek saat saya mendekati mereka.
“Gus, kenalin.. ini.. Vivi,” kata si Andi memperkenalkan cewek tersebut.
Saya mengulurkan tangan saya, “Saya Agus..” jawab saya memperkenalkan diri.
“Vivi..” jawabnya pendek.
“Nama yang bagus, lagi menunggu siapa Vi?” tanya saya. Saya tahu yang namanya cewek itu paling suka dipuji.
Dia tersenyum.. manis sekali. “Temen saya, janjian mau datang. Kok nggak nongol-nongol sich?” gerutu Vivi sambil cemberut.
“Vii.. Vivi..” tiba-tiba terdengar suara beberapa orang cewek. Saya melihat ke arah suara tersebut yang ternyata berasal dari dua orang cewek temannya si Vivi. Dengan cepat mata saya menyapu wajah mereka yang datang. Lumayan juga pikir saya, tetapi dibandingkan Vivi.., masih mendingan Vivi.. Jadi saya putuskan untuk tetap fokus pada Vivi.

Dalam sekejap ruangan tersebut penuh dengan suara keempat cewek tersebut. Rupanya mereka adalah teman satu SMA. “Udah ya.. filmnya udah mau mulai.. seneng ketemu kalian,” kata Vivi sambil berjalan keluar restaurant. Wah, gimana nich biar bisa ketemu lagi, saya memutar otak saya.

“Vii.. bisa minta nomor telepon loe..” seru saya sambil berlari ke arah Vivi. Dia tersenyum manis dan menyebut nomor HP tertentu. Dengan sigap saya mengeluar HP dan memasukkan nomor tersebut. Di belakang saya Andi juga memasukkan nomor tersebut ke HP-nya. Kemudian Vivi meninggalkan restaurant tersebut, membawa bersamanya semangat dan jiwa saya.
“Gus, saya jatuh cinta nih.. buat saya aja ya?” tanya si Andi.
“Wah, sorry Di, saya juga suka.. buat gua aja ok?” tanyaku balik.
Saat itu entah bercanda atau tidak Andi menjawab, “Gua lebih baik kehilangan seorang temen daripada kehilangan Vivi..”

Part 2: Kala cinta mulai bersemi

Malamnya sekitar jam 9, saya langsung menelepon Vivi. Tanggapannya cukup baik, kita ngobrol sekitar 15 menit. Dari sana saya tahu kalau dia kost di daerah Mangga Besar bersama seorang kakak perempuannya. Saat ini dia kuliah di salah satu universitas di kawasan Grogol, jurusan Management tingkat akhir. Umurnya 23 tahun. Asalnya dari Palembang, dan di Palembang ibunya tinggal bersama dengan seorang kakak perempuannya.

Habis itu hampir setiap hari saya selalu menelepon Vivi dan menanyakan kondisi dia, dsbnya. Akhirnya saya tahu bahwa dia belum punya cowok. Pernah pacaran sebelumnya tetapi sudah putus tahun lalu. Saya beberapa kali mengajak dia keluar tetapi selalu ditolak dengan halus. Akhirnya semangat saya sedikit mengendor tetapi tetap rajin menanyakan kondisi dia.

Suatu hari kakaknya yang mengangkat telepon saya dan memberitahukan bahwa Vivi sedang sakit. Saya menanyakan alamat mereka dan kakaknya memberitahukan saya. Kemudian dengan bergegas saya mengeluarkan mobil saya dan mengarahkan mobil saya ke kost-nya. Saya singgah sebentar di Bakmi Gajah Mada dan membeli dua bungkus bakmi. Waktu saya tiba di kost mereka, ternyata Vivi sedang tidur dan saya menitipkan bakmi tersebut ke kakaknya. Kakaknya sangat mirip dengan Vivi, dengan tubuh yang jauh lebih indah. Menurut saya Vivi agak kurus.

Tindakan saya ini rupanya memberikan kesan yang sangat mendalam pada Vivi. Besoknya dia menelepon saya untuk mengucapkan terima kasih. Ada nada haru di suaranya. Minggu itu selama tiga hari berturut-turut saya membelikan makanan buat mereka. Hari ketiga saya dipersilakan masuk ke kost mereka yang cukup mewah. Ketika jam dinding berdentang 10 kali, saya melihat kakaknya si Vivi dengan gelisah selalu melirik ke jam. Tahu diri, saya pamit pada mereka.

Benih-benih cinta mulai bersemi di hati saya dan Vivi. Hampir setiap minggu saya nongol di kost-nya dan kita sering makan dan nonton bareng.

15 Maret 1999 jam 17.00, saya sedang bekerja di kantor saya yang berlokasi di daerah Sudirman. Saya dipindahkan dari cabang Grogol ke kantor pusat sejak bulan February 2000. Tiba-tiba HP saya berdering dan saya lihat nama Vivi muncul di layar telepon tersebut. Dengan buru-buru saya menjawab telepon tersebut, rupanya hari itu Vivi ulang tahun dan dia bermaksud mengundang saya untuk makan malam. Tanpa pikir panjang saya langsung mengiyakan.

Buru-buru saya membereskan barang-barang saya dan dengan tergesa-gesa saya menuju ke toko di gedung sebelah untuk membeli satu pot bunga mawar berikut boneka beruang yang cukup besar.

Malam itu Vivi terlihat begitu cantik, dengan baju pestanya berwarna hitam. Belahan bajunya yang begitu rendah memamerkan kulit dadanya yang putih bersih. Dia terlihat begitu ceria dan dengan sigap merekam situasi di sana dengan handycam-nya. Ketika itu, saya terkejut melihat sosok yang saya kenal: Andi. Dia sendiri juga terlihat kaget melihat saya. Rupanya saat itu Vivi mentraktir Andi bersama dengan teman-teman SMA-nya. Terasa canggung sekali saat itu berhadapan dengan Andi.

Setelah itu saya bersama Vivi makan disalah satu caf di Kemang. Ketika saya mengantarkan Vivi pulang, dia mengaku bahwa Andi sering meneleponnya tetapi dia sendiri lebih suka bersama saya. Saat mendengar pengakuannya saya termenung, bagaimana tanggapan Andi yang merupakan teman dekat saya kalau saya pacaran dengan Vivi?

Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 ketika kita tiba kembali di kost-nya. Kakaknya saat itu tidak berada kost, menurut Vivi, kakaknya sedang keluar kota. Kemudian Vivi meminta saya menunggu soalnya dia bermaksud untuk mandi.

Ketika dia mandi, iseng-iseng saya melihat sekeliling kamarnya berjalan ke arah telivi yang terletak di atas meja tulis. Tanpa sengaja, mata saya tertuju ke ujung sebuah photo yang nongol dari salah satu laci di meja tersebut. Saya mengeluarkan photo tersebut dan tercegang melihat photo seorang cewek telanjang. Saya memperhatikan photo tersebut dan mengucek-ngucek mata, gadis itu adalah kakaknya si Vivi! Di foto tersebut, kakaknya sedang berdiri di samping kolam renang pribadi dengan tubuh polos! Terlihat buah dadanya yang montok dan bulu kemaluannya yang sangat lebat. Dengan tangan gemetar, mata saya mencari tanggal di photo tersebut, 12 Desember 1995. Hmm.. masih baru.

Tiba-tiba suara air di kamar mandi menghilang. Dengan sigap saya memasukkan photo tersebut kembali dan selesai mandi Vivi keluar hanya mengenakan handuk berwarna pink, sepertinya dia sedang memancingku. Dia terlihat sangat segar.

Ketika dia membuka lemari untuk mencari pakaian, saya memeluknya dari belakang. Terasa tubuhnya yang dingin dan tercium wangi sabun yang baru dipakainya. Saya mencium lehernya dari belakang.

“Ih.. Geli ah.. udah dong..” komentar Vivi.
Aku tidak menjawab melainkan tetap melanjutkan ciumanku, kali ini turun ke pundaknya yang putih mulus. Dia berusaha mengelak, tetapi saya tidak memberinya kesempatan. Ciuman saya berlanjut ke belakang telinganya. Saya bisa mendengar nafasnya yang mulai memburu.

Tangan saya melingkari pinggangnya yang ramping. Saat itu kemaluan saya menekan pinggulnya yang sangat montok. Ciuman saya kemudian berlanjut ke pipinya. Dia menoleh ke belakang dengan sigap bibir saya mendarat di bibirnya. Saya mengulum bibirnya dengan penuh perasaan. Dia menutup matanya dan terlihat menikmati ciuman tersebut. Selang 5 menit kemudian, tangan kanan saya beralih ke buah dadanya yang masih tertutup handuk. Kenyal sekali. Jari-jari saya berusaha mencari puting susunya tetapi agak susah soalnya di balik handuk tersebut dia sudah memakai bra. Tangan kiri saya beralih mengelus pahanya yang putih mulus. Terasa mulus dan dingin (habis baru mandi).

Entah disengaja atau tidak, Vivi menggerak-gerakkan pinggulnya sehingga menggesek kemaluan saya. Getar kenikmatan yang saya rasakan begitu luar biasa.
“Eh, gua punya ide nih..” tiba-tiba Vivi berkata, “Gimana kalo kita merekam apa yang akan kita lakukan?”
“E.. me.. me.. reekamm?” tanyaku tergagap. Aku sering nonton BF tetapi kalau pemainnya saya sendiri gimana ya?
“Iya, abis itu kalo kita nonton lagi pasti seru..” jawab Vivi. Saya tidak menyangka di balik wajahnya yang begitu polos dia bisa menawarkan hal tersebut.
“E.. boleh dech.. tapi abis itu langsung di hapus ya?” kataku, sedikit ragu-ragu. Habis gimana kalau nanti ada orang lain yang melihat film tersebut?
“Tentu dong.. Hihi..” jawab Vivi.

Kemudian dia berjalan ke meja dan membuka handycam-nya. Dia menekan beberapa tombol dan meletakkannya di meja dengan kamera menghadap ke ranjang.

Perlahan, Vivi berjalan menuju kasur. Kerling matanya seakan-akan menyihir dan memancingku. Saya cuma bisa mengikutinya. Tiba di pinggir kasur, dengan posisi berdiri dia memeluk leher saya dan mencium saya dengan buas. Cukup lama kita berciuman, kemudian saya membaringkan Vivi di kasur. Berbaring di samping dia, saya mengarahkan bibir saya untuk mencium bibirnya yang tipis. Perlahan dan penuh perasaan saya mengulum dan melumat bibirnya.

Degup jantung saya semakin cepat ketika saya mengarahkan tangan kanan saya ke arah dadanya yang masih tertutup handuk. Sedikit gemetar tangan saya ketika jari-jari saya berusaha membuka handuk yang melilit erat di tubuhnya. Mata Vivi masih terpejam menikmati ciuman kita. Ketika handuk tersebut terbuka, udara dingin dari AC langsung menyentuh kulitnya. Vivi membuka matanya, pandangan matanya terlihat sayu.

“Gua sayang Vivi..” setelah itu saya melanjutkan ciuman. Dengan buas saya mencium dan mengulum bibirnya sambil menjulurkan lidah saya menyusuri bibir yang terasa hangat.

Merasakan nafasnya yang mulai memburu, saya mengarahkan tangan saya ke buah dadanya yang masih tertutup bra hitam. Saya meremas buah dadanya yang montok dan kenyal. Kelima jari tangan saya menari-nari di atas buah dadanya, jempol dan jari telunjuk saya berusaha mencari puncak tonjolan buah dadanya. Di puncak gunung dadanya jari tanganku memutar dan memelintir ujungnya yang menonjol dan menegang.

Ketika jemari tangan saya berkutat dengan payudaranya, ciuman saya beralih ke lehernya yang jenjang. Perlahan-lahan lidah dan bibir saya menyusuri telinganya, turun ke lehernya, dan pundaknya. Kemudian saya mengalihkan tangannya ke atas, sehingga saya bisa melihat ketiaknya yang mulus tanpa bulu. Ciuman saya berlanjut ke daerah ketiaknya.., dia mendesah pelan ketika lidah saya bermain di sana. Keharuman sabun yang dia pakai sewaktu mandi masih terasa.

Kemudian lidah saya mulai menyusuri daerah dadanya. Tangan saya bergerak ke arah bra hitamnya dan dengan cekatan melepas kancing branya yang berada di depan. Ketika kancing tersebut terbuka, terpampanglah pemandangan sepasang gunung yang begitu indah. Di puncaknya terlihat puting susunya yang kecil dan berwarna coklat muda. Perlahan saya melingkari buah dada kanannya, mulai dari dasar sampai ke puncaknya. Sementara itu bibir saya mengulum buah dada kirinya. Sekali-kali saya mengalihkan mata saya ke wajah Vivi yang sudah merah padam akibat bara nafsu yang sudah menyala.

Ciuman saya berlanjut menyusuri perutnya yang datar dan bermain di pusarnya yang kecil. Setelah itu perjalanan lidah saya dilanjutkan ke paha dalamnya, menyusuri pahanya ke lututnya kemudian kembali lagi ke ujung kedua pahanya. Saat itu Vivi memakai celana dalam hitam dan sela-sela celana dalamnya terlihat ujung beberapa helai bulu kemaluan yang ogah bersembunyi di dalam. Saya menggerakkan lidah saya menyusuri pinggiran celana dalamnya. Kemudian jari saya menarik celana dalamnya ke bawah dan melepaskannya dari sepasang kakinya yang indah. Tatapan mata saya tertuju ke daerah kemaluannya yang berwarna kemerah-merahan dan penuh di tumbuhi ilalang hitam keriting. Jarang saya melihat cewek dengan bulu kemaluan yang sedemikian rimbun, dan bulu-bulu tersebut juga tumbuh di samping bibir kemaluannya menutupi bibir kemaluan dan klitorisnya.

Dengan jari, saya mengusap perlahan bulu kemaluannya. Kemudian jari tangan saya berusaha menyibak bulu yang menutupi bibir kemaluannya. Terlihat lubang kemaluannya yang masih sempit dan basah oleh cairan berwarna bening. Saya menggerakkan jari saya ke daerah klitorisnya dan mencari titik sensitif tersebut. Cukup lama saya berusaha, akhirnya berhasil juga saya menempatkan klitorisnya di antara jari tengah dan jari telunjuk saya. Lidah saya kemudian saya arahkan ke klitorisnya, terasa asin dan tercium harum sabun yang semerbak.

“Ahh.. Gus.. Ahh..” terdengar desisan Vivi. Pada saat bersamaan dia menggerakkan pinggulnya ke atas ke arah wajah saya sehingga wajah saya terbenam seluruhnya di pangkal pahanya. Ketika dorongannya mengendor, saya menggerakkan lidah saya menyusuri bibir kemaluannya menuju lubang kemaluannya. Di sana saya berusaha memasukkan lidah saya ke dalam lembah nikmatnya.

“Ahh.. geelii..”
Lidah saya kemudian melanjutkan perjalanannya ke bawah, sekali ini menuju lubang yang berada di antara dua gumpalan pinggulnya. Lidah saya meneruskan tariannya di sana.
“Ahh.. oh.. enakk Gus..” seru Vivi sambil mengangkangkan kakinya lebar-lebar.

Cukup lama lidah saya bermain di daerah kewanitaannya dan Vivi cuma bisa mendesis dan menikmati setiap sentuhan lidah saya. Sekali-kali saya memasukkan jari saya di lubang kenikmatannya yang ternyata tidak begitu dalam. Jari tengah saya bisa menyentuh mulut rahimnya yang juga merupakan titik sensitifnya. Cairan dari liang kemaluannya semakin banyak dan baunya begitu merangsang, begitu nikmat.

Kemudian saya kembali menjilati kacangnya yang sensitif dengan cepat. Lidah saya naik-turun dengan cepat dan bertenaga. Jari tengah dan telunjuk saya menyusuri lubang kewanitannya dengan gerakan yang semakin cepat.

“Ah.. Enak.. Gus.. lebih cepet dongg..” Pinta si Vivi, “Gua udah nggak tahan.. Masukin punya kamu Gus.. Masukin Gus..”
Saya tidak menghiraukannya, melainkan meneruskan jilatan dan gerakan jari tanganku. Tiba-tiba tubuhnya mengejang, jarinya menjambak rambut saya dan pahanya mengepit kepada saya. Vivi meronta-ronta seperti ikan di daratan. Rupanya dia mencapai puncak kenikmatannya. Ketika gerakan tubuhnya berhenti, saya membiarkannya sekitar dua tiga menit agar kenikmatan yang ia rasakan bisa dinikmati sepuasnya. Setelah itu saya melanjutkan gerakan lidah saya kembali. Beberapa menit kemudian, desisannya mulai terdengar kembali, “Ihh.. ohh..”

Merasa bahwa dia sudah terangsang kembali, saya bangkit dan menyiapkan tongkat wasiat saya yang sudah mencapai kekerasan optimumnya. Saya mengarahkannya ke lubang kenikmatan Vivi. Saya menggesek-gesekkan tongkat tersebut di daerah sensitif di kemaluan Vivi.
“Ah.. Masukin Gus.. Tolongg.. jangan siksa saya.. Masukin..” mohon Vivi.

Saya tersenyum dan bersiap-siap memasukkan tongkat wasiat saya. Perjalan tongkat tersebut menyusuri lubang yang sempit, basah dan hangat menghasilkan sensasi dan getaran kenikmatan yang luar biasa. Saya menutup mata saya sambil berusaha menikmati setiap perasaan yang ada.

Merasakan batang kemaluan saya mencapai ujung lorong kemaluan Vivi, saya mencium bibir dan keningnya.
“I love you, Vi.. Kamu cakep sekali,” bisik saya di telinganya.
“I love you too..” jawab Vivi dengan nafas memburu.

Setelah itu mulailah saya mengeluarkan dan memasukkan tongkat wasiat saya. Saya merasakan Vivi juga menggerakkan pinggulnya dengan gerakan memutar.
“Ah.. Enak.. Vii..” harus saya akui bahwa permainannya begitu nikmat.

Setelah pinggul saya terasa capek, saya mengganti gerakan saya dengan gerakan memutar. “Ahh.. Ohh.. ahh..” Vivi mendesah dan desahan beserta teriakannya membangkitkan nafsu saya.
“Ahh.. Gua datang Gus..” Kali ini arus kenikmatan yang datang begitu dahsyat. Vivi menggerakkan pinggulnya dengan cepat dan bertenaga. Saya sendiri berusaha menekan tongkat wasiat saya sedalam-dalamnya.

Akhirnya arus kenikmatan kedua tersebut tiba juga diiringi teriakan Vivi yang begitu keras. Saya menutup bibirnya dengan bibir saya agar suaranya tidak membangunkan tetangga kamar kost-nya.

Akhirnya dia terbaring lemas. Saya kembali memberikan dia waktu untuk menikmati arus kenikmatan tersebut. Setelah itu saya kembali menarik dan mendorong keluar masuk tongkat wasiat saya. Terangsang oleh desahan dan teriakan Vivi, saya akhirnya menyembulkan cairan hangat saya di lubang kenikmatannya yang sudah basah kuyub. “Ahh.. gua datang Vi..” Betapa nikmatnya.

Setelah itu, dengan tubuh lemas Vivi berjalan ke arah Handycam-nya dan menghubungkannya ke telivisi 28 inch. Saya sendiri masih terengah-engah kecapekan di ranjang.

Vivi me-rewind handycam-nya beberapa kali dan mencari-cari rekaman percintaan kita. Akhirnya dia menemukan adegan tersebut. Dada saya berdegup kencang menyaksikan diri saya di rekaman tersebut. Beberapa perasaan hadir sekaligus, takut, senang, terangsang, penasaran dan sebagainya. Vivi sendiri juga melotot melihat rekaman tersebut. Ketika rekaman tersebut menunjukkan Vivi mencapai orgasmenya karena jilatan saya, saya melihat Vivi meraba daerah kemaluannya sendiri. Tongkat saya mulai mengeras dan membesar.

Akhirnya malam itu kita bercinta dua kali lagi. Saya orgasme tiga kali dan Vivi sekitar tujuh kali. Tetapi setiap kali kita melihat adegan rekaman tersebut, dengan cepat gairah nafsu menguasai kita.

Di pagi hari Vivi menghapus rekaman tersebut. Sebenarnya saya ingin menyimpannya tetapi dia menolak, sayang sekali khan?

Part 3: Teratai di kolam berlumpur
September 1996

Setelah kejadian tersebut, hubungan saya dan Vivi semakin akrab. Bulan depan papa saya akan datang ke Jakarta. Saya bermaksud mengenalkan Vivi pada beliau.

Jumat malam saya diminta boss saya untuk menemani lima tamu perusahaan saya ke karoake Hailai. Memakai jas hitam dan koas ketat didalam, saya terlihat begitu keren malam itu.

Tiba di karaoke tersebut, kami meminta Maminya untuk mencarikan kami 6 orang cewek yang akan menemani kami bernyanyi. Dalam waktu 15 menit, Mami tersebut kembali dengan beberapa orang gadis.

Gadis kedua yang memakai baju putih dengan segera menarik perhatian saya. Dada saya berdebar dan tubuh saya gemetar ketika mengenal gadis tersebut. Dia adalah Vivi!! Ruangan karoake yang gelap tidak bisa menyembunyikan sosok yang begitu saya sayangi dan cintai. Sosok yang selalu hadir didalam mimpi saya. Sosok yang akan saya kenalkan pada papa saya bulan depan.

Ketika melihat saya, terlihat mata Vivi membesar dan kemudian dia berlari keluar. Saya segera mengejarnya keluar. Saya melihat dia menuruni tangga menuju toilet cewek. Dengan cepat saya mengejarnya tanpa menghiraukan tatapan orang di ruangan diskotik tersebut (karoake tersebut berada di lantai dua, lantai pertama adalah diskotik).

Akhirnya saya berhasil menyusulnya, dia berdiri di lorong yang menuju toilet wanita. Dia menundukkan kepalanya.
“Vi..” saya memanggilnya.
Dia mengangkat kepalanya, matanya terlihat berkaca-kaca.
“Maafin saya, Gus..” katanya.
“Kenapa.. Kenapa Vi? Enam bulan kita bersama, kenapa kamu membohongi saya?” suara saya meninggi menahan amarah dan duka.
“Saya memang wanita malam.. maafkan saya..” pinta Vivi, “Mama saya sakit jantung dan memerlukan biaya yang besar untuk mengobati penyakitnya. Kakak saya juga bekerja di sini.”

Lidah saya terasa kelu, tetapi membayangkan bahwa dia membohongi saya selama enam bulan dan bahkan saya bermaksud mengenalkannya pada papa saya, amarah saya kembali menggelegar. Pacar saya adalah wanita malam! Di mana saya menaruh muka saya? Bagaimana saya menghadapi keluarga saya? Teman saya? Customer saya? Rekan kerja saya? Bajingan!!

“Kamu manusia hina, Vi!” Itulah kalimat terakhir yang saya ucapkan setelah itu saya kembali ke ruangan karoake yang gelap. Kepada tamu saya, saya mengatakan bahwa gadis tersebut adalah saudara jauh saya.
Malam itu saya tidak bisa memejamkan mata sepanjang malam. Mengapa sang Pencipta begitu kejam mencobai saya? Mengapa? Mengapa?

Part 4: Arti Kehidupan

Hampir empat tahun berlalu sejak kejadian tersebut. Saat ini pandangan saya sudah jauh lebih dewasa dan saya menyesal telah memperlakukan Vivi seakan-akan dia bukan manusia.

Sebenarnya dia begitu baik, rela berkorban demi mamanya. Saya akan melakukan hal yang sama seandainya saya itu dia! Saya sangat menyesal. Saya tahu bahwa cobaan dari Sang Pencipta adalah untuk kebaikan kita juga.

“Hati kita akan kehilangan kelembutannya jika tidak pernah merasakan airmata, dan ketajaman gunting memberikan keindahan dan keanggunan pada ilalang.”

Kabar terakhir yang saya terima adalah Vivi sekarang telah menjadi isteri Andi, sahabat karib saya yang bisa menerima dia apa adanya. Setelah lulus kuliah, Vivi bekerja disalah satu bank asing dan saat ini dia menduduki posisi Senior Manager, jabatan yang lebih tinggi dari saya sewaktu saya berhenti bekerja! Mereka di karuniai dua orang putra yang begitu cakep. Vivi itu ibarat teratai di kolam berlumpur. Saya hanya melihat sisi kotornya tidak tidak melihat sisi indahnya. Betapa bodohnya saya. Saat ini saya tidak mempunyai siapapun dan apapun. Roda kehidupan terus berputar.. berputar.. berputar.. kadang di kita atas kadang di bawah.

TAMAT

Incoming search terms:

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *