Cerita Dewasa - Ketagihan Kontol Gede Mertuaku

Cerita Dewasa – Ketagihan Kontol Gede Mertuaku

Posted on

Cerita Dewasa – Ketagihan Kontol Gede Mertuaku | Pada suatu hari Monna dan suaminya, Anton, dikunjungi Pak Dulah. Pak Dulah yang berumur 53 thn adalah ayah mertua Monna. Berbeda dgn Anton yang tampan dgn hidung yang mancung dan badan yang tegap, Pak Dulah lebih tampak gempal dan berotot. Sebuah codet bekas luka menyilang di pipi kirinya. Monna, menantu pak Dulah, tak kalah rupawannya dgn Anton. Meskipun tidak terlihat seksi krn selalu berpakaian tertutup, perempuan ini memiliki bibir yang indah dan sepasang mata yang mampu mengguncangkan dada bnyk pria. Pasangan suami isteri yang baru menikah satu thn yang lalu ini tentu sgt gembira dgn kedatangan pak Dulah yang telah bercerai dgn isterinya 6 thn yang lalu.

Cerita Dewasa - Ketagihan Kontol Gede Mertuaku Cerita Dewasa - Ketagihan Kontol Gede Mertuaku Cerita Dewasa - Ketagihan Kontol Gede Mertuaku bugil bokep3gpCerita Dewasa – Ketagihan Kontol Gede Mertuaku | Terlebih lg, meskipun onna pernah bertemu dgn ayah mertuanya tersebut sebelumnya, tetapi pak Dulah tidak bisa hadir dlm pesta pernikahan mereka. Selama sepekan Pak Dulah tinggal di rumah Anton yang mengajar di sebuah sekolah yang berhampiran dgn rumahnya. Semua berjalan normal sampai terjadi tragedi di hari akhir pak Dulah dirumah Anton. Tragedi itu bermula pada hari libur pasangan Anton-Monna. Namun, hari itu Anton mengajar satu kelas tambahan di sekolah dan akn bertandang ke rumah salah satu siswa sampai Ashar. Seperti biasa Monna menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya dan pak Dulah. Selepas menghantar suaminya ke muka pintu, Monna sempat berbincang dgn mertuanya. Kemudian dia bergegas ke kamar mandi untuk mencuci baju. Pak Dulah yang kebetulan hendak pula buang air tanpa sengaja melihat ‘pemandangan’ yang merangsang. Rupa-rupanya Monna terlupa merapatkan pintu. Mata liar pak Dulah tak lepas melahap tubuh mulus Monna yang tengah mencuci baju. Seingat pak Dulah, dia tidak pernah melihat tubuh menantunya dlm keadaan terbuka dgn hanya terbalut kain setinggi dada. Tubuh mulus Monna yang semampai dgn tinggi 170-an, dgn kulit kuning langsat dan dada yang kencang membusung tersebut, selama ini selalu tertutup kerudung dan baju muslim yang rapat.

cerita dewasa – Ketagihan Kontol Gede Mertuaku | Selain itu, menantunya terkenal dgn sifat sopan santun dan sgt menitikberatkan tentang soal penjagaan aurat. Malahan didlm rumah sekAntonpun menantunya tidak pernah menanggalkan kerudungnya melainkan ketika bersamasuaminya saja. Namun kini, kain tipis yang basah itu tak lg mampu menyembunyikan kemolekan tubuh Monna dari tatapan penuh nafsu sang ayah mertua. Tak tertahan lg, syahwat pak Dulah mengegelegak sampai ke puncak dan mendorongnya untuk membuka pintu kamar mandi yang hanya ? tertutup tersebut. Monna yang merasakn kehadiran orang lain sgt terperanjat ketika menoleh dan menyaksikan pak Dulah sedang mendorong daun pintu. Secepat mungkin dia bangkit dan berusaha menutup pintu, hanya saja dia kurang gesit.

 

cerita dewasa – Ketagihan Kontol Gede Mertuaku | Pak Dulah sudah berhasil msk ke dlm kamar mandi dan mendorong tubuh menantunya tersebut ke pinggir bak sebelum mengunci pintu. Norzaina terdesak ke pojok dgn wajah ketakutan melihat seringai binal yang menghiasi wajah mertua yang selama ini terlihat pendiam dan sgt dihormatinya. ‘Aa.. Aayah apa yang ayah lakukan ini? i?! tanya Monna dgn terbata-bata . Pak Dulah hanya tersenyum sinis sambil matanya meliar ke segenap jengkal tubuh menantunya. Tanpa berucap sepatah katapun, Pak Dulah mulai menanggalkan pakaiannya satu persatu. Monna terpekik ketika melihat “batang’ ayah mertuanya yang hitam dan besar serta tegak mengacung ke arahnya. “A.. ayah jangan yahh, ttoo.. long keluar, yah.. tolong.. “, keadaan ini sgt menakutkan lg Monna apalg ketika pak Dulah mulai beringsut mendekatinya. Melihat permintaannya diabaikan, Monna yang tidak rela diperlakukan begitu mencoba untuk menerobos ke sisi kiri ayah mertuanya untuk mencapai pintu.

Namun keadaan menjadi bertambah buruk ketika pak Dulah dgn sigap menangkap pinggang menantunya tersebut dgn tangan kirinya yang kukuh sembari tangan kanannya bergerak kilat menghentak lepas ikatan kain di dada Monna. “Breet” kain tipis bermotif batik coklat itupun jatuh terburai ke kamar mandi. Terpampanglah tubuh mulus Monna yang hanya dibaluti kutang sutra berenda putih dan celana dlm mungil yang juga putih. Monna sgtlah malu mendpti dirinya nyaris bugil dan tengah dipeluk oleh ayah mertuanya yang sudah telanjang bulat. Pak Dulah kini dgn bebas menatapi tubuh mulus menantunya dari dekat; dari dua bukit menawan yang menghiasi dada yang kembang kempis ketakutan sampai gundukan vaginanya yang begitu mengundang walaupun dibungkus kain sutra. Bungkus indah itu justru mencetak lekat lekak liku dan guratan liang kemaluan menantunya yang rupawan. Bulu kemaluan yang membayang tipis serta mencuat malu-malu di sekeliling selangkangan Monna membuat pak Dulah tercekat dan tak mampu berkedip. SebAntonknya, Monna mendadak lemas, sendinya serasa luluh di dlm pelukan pak Dulah dan hanya mampu memejamkan matanya serta mulai menangis tertahan. ‘Huu. huu.. ayaah, jangan berbuat seperti ini ayah, .. huu. huu. huu.. aku ini istri anakmu.. ” bisik Monna lirih sambil terus terisak. Pak Dulah yang telah lama tidak merasai kehangatan liang kemaluan perempuan sama sekAnton tak peduli. Dihentakkannya tubuh Monna dgn penuh nafsu sampai tersandar ke dinding kamar mandi. Monna masih berusaha melindungi dirinya dari terkaman mertuanya. Dia kemudian embAntonkkan badanke dinding berusaha menjaga payudara dan kemaluannya dari pandang liar pak Dulah. Namun itu tak bisa menghentikan pak Dulah dan tanpa ba-bi-bu dia langsung merenggut kutang sutra berenda yang masih melindungi buah dada menantunya itu dari belakng. Robeklah kutang tersebut seiring dgn lepasnya kaitan akibat renggutan ganas pak Dulah dan “aaah.. ” mulut pak Dulah ternganga saat dia membAntonkkan tubuh Monna dan bersitatap dgn sepasang bukit kenyal dan ranum dgn dua puncak merah muda yang mendadak tersembul di depan dada perempuan muda tersebut. Dgn nafas tersengal-sengal krn nafsu yang memuncak pak Dulah tak menunggu lama untuk beraksi. Dgn sigap dijejalkannya tengan kirinya ke mulut menantunya yang masih tersedu tersebut untuk menahan isaknnya, sedangkan bibirnya yang tebal segera menuju ke arah dada Monna. Pak Dulah walaupun sudah dicengkeram nafsu sampai ubun-ubun berusaha keras untuk tidak terburu-buru dlm memanfaatkan peluang ini. Bibirnya tidak langsung mengulum puting merah muda Monna namun dgn acak mengecup sekeliling buah dada kanan sang menantu.

Dia tidak hanya mencium namun bibir kasarnya juga mencecap dan mencubit pinggiran gundukan bukit itu dgn lahap. Secara bersamaan telapak tangan kanannya terentang menangkupi buah dada kiri Monna. Jari-jarinya menyentuh pangkal buah dada dan pelahan mulai menekan- nekan dgn teratur. Puting kiri Monna yang berada di tengah telapak pak Dulah tentu saja tergesek-gesek bersamaan dgn gerakn jarinya yang makin lama makin kencang. Monna meregang, dia dpt merasakn bibir dan jari jemari mertuanya menjelajahi dadanya. Wajahnya memucat dan lehernya mendongak tegang saat perasaan geli dan nikmat yang sebelum ini hanya didpt dari Anton, suaminya, kini dirasakn dari gelutan pak Dulah. Rasanya ingin memekik namun bibir mungilnya terhalang tangan pak Dulah. Monna hanya mampu melenguh pendek di saat perasaannya mulai terbagi antara rasa terhina dan kenikmatan, antara malu dan perasaan bersalah dgn naluri wanitanya untuk menuntaskan birahinya yang mulai bangkit. Pak Dulah peka akn hal ini, segera dieratkannya terkamannya. Bibirnya masih terbenam didada Monna namun kini lidahnya mulai bermain, berputar menyapu buah dada itu dari pinggir menuju tengah serta menjilat tegak puting Monna yang mulai teracung kencang dan kemudian menghisap-hisapnya dgn dlm-dlm. “, ooh.. auugh.. aaach.. ” desah tertahan menantunya makin sering terdengar saat tangan kanan pak Dulah tidak lg berbasa-basi dan kini mulai meremas-remas buah dada kiri Monna serta jari jemari dan telapak tangannya bergantian memilin, menarik, dan memijit puting yang satunya lg. Tidak kurang dari lima menit pak Dulah menikmati dada menantunya dgn posisi berdiri. BerkAnton-kAnton lehar dan kepala Monna terhentak- hentak ke dinding mengikuti hisapan dan remasan pak Dulah.

Kemudian tanpa terduga Monna yang mulai terbuai gairahnya, pak Dulah menggigit buah dada Monna sekencang- kencangnya dan tangan kanannya meremas keras puting kiri. “Aaaach.. ” jerit kesakitan bercampur kenikmatan dari bibir Monna menyeruak kencang krn saat bersamaan pak Dulah melepaskan tangan kirinya dari mulut sang menantu. Tubuh Monna tersandar kaku di dinding, seluruh raganya mengejang dan kepalanya terdorong ke depan dgn bibir yang membulat tanpa suara ketika tangan kiri pak Dulah yang sudah bebas mulai menyelinap ke bAntonk celana dlmnya, menggeser cepat di pinggir bibir kemaluannya serta kemudian menghujam langsung ke kelentitnya. Telunjuk itu kemudian berputar-butar di dlm liang kemaluan Monna dan mengorek-ngorek kelentitnya dgn pilinan- pilinan liar. Bibir Monna makin membuka lebar saat tangan kanan Pak Dulah menarik turun celana dlm sutranya sampai robek dan dilemparkan ke pojok kamar mandi. Pak Dulah kini sudah dlm posisi berjongkok, sambil terus mengorek kelentit menantunya matanya terbeliak lebar saat menatap kemaluan Monna yang terpampang begitu dekat di depan matanya. “oh. Anton, engkau sungguh anak yang beruntung .. ” batinnya dlm hati saat dia menyaksikan guratan dan lekak-lekuk vagina yang begitu menantang. Di tempelkannya hidungnya disamping telunjuk kirinya yang masih giat bekerja dan kini mulai mengocok kencang. “, ooh.. sedaap.. ” desis pak Dulah saat dia membaui aroma wangi vagina yang mulai bercampur bau lelehan cairan kewanitaan di liang kemaluan Monna yang juga mulai bengkak. Mata Monna masih terpejam, keringat membasahi punggung serta kepalanya sudah tersandar lg ke dinding menahan rasa perih dan nikmat yang datang bergantian. Namun itu tidak berlangsung lama, kepalanya kembali terdorong ke depan dan mulutnya bibirnya kembali melenguh kelezatan saat pak Dulah melanjutkan aksinya. “IAiiih.. aah.. aaah.. aahhh.. desis itu keluar saat pak Dulah menggunakn lidahnya untuk menggantikan jari telunjuknya dlm memainkan kelentit Monna.

Lidah pak Dulah menyisir pinggir luar bibir kemaluan Monna secara vertikal naik turun, naik turun, sebelum menggelincir ke tepi bagian dlmnya dgn menyapu liang hangat itu secara horizontal dan kemudian membenamkannya dlm-dlm secara berulang-ulang, keluar- msk, keluar-msk. Pak Dulah seakn dimabuk kenikmatan yang mendlm. Dicecapnya hangat lipatan-lipatan vagina Monna dgn lahap. Sudah berthn-thn dia tidak merasakn sensasi yang dahyat ini. Dimainkannya kelentit Monna dgn lidah dgn sapuan-sapuan dan pilinan- pilinan kecil namun mantab. Sembari mengulum dan menghisap, ke dua belah tangan pak Dulah mulai bergantian meremas bongkahan pantat Monna. Tak henti-henti kesepuluh jemari gempal pria uzur itu membenamkan cengekeramannya ke dlm dua bongkahan daging yang bulat tanpa cacat milik sang menantu. SesekAnton telunjuk kanannya menusk kerang lubang anus Monna dan mengocoknya. Tak terperikan gelombang kenikmatan yang menjalari segenap indra Monna. Tanpa sadar tangannya yang selama ini tergantung lemah di kedua sisi tubuhnya bergerak ke depan mencengkeram rambut tipis pak Dulah dan mendorong kepala mertuanya tersebut agar makin terbenam ke dlm kemaluannya. Tak lama kemudian terdengar lolongan panjang sang menantu “, oooouughhh, aaaayaaahhh, .. ” seiring dgn meledaknya seluruh gairah yang selama ini tertahan. Runtuh sudah pertahanan terakhir Monna, tubuhnya mengejan dan
melengkung ke depan
sementara seluruh liang
vaginanya telah banjir dgn
cairan kenikmatan.
Pak Dulah menarik wajahnya
dari kemaluan Monna,
tangannya dilepaskan dari
kedua bongkah pantat sang
menantu dan diapun beringsut
mundur. Dipandangnya tubuh
lemas Monna pelahan-lahan
merosot turun di dinding kamar
mandi sampai akhirnya
kemudian terduduk. Mata
Monna terpejam, bibirnya
membentuk bulatan “o’ kecil
sementara tarikan garis
wajahnya menyiratkan
kepuasan yang tak terkira
sebelum kemudian wajah
rupawan itu terkulai ke arah
bahu kiri. Tanpa menunggu
waktu lama pak Dulah bergerak
maju lg. Ditariknya kedua kaki
Monna sampai tubuhnya
sepenuhnya telentang di lantai
kamar mandi dan tidak lg
bersandar di dinding. Dgn
sigap dijilati bagian dlm paha
kanan Monna sementara
tangan kirinya berkeliaran
mengelus-elus paha dan betis
kanan Monna. Monna
hanya memandang sayu,
sementara kepalanya,
menggeleng-geleng pelahan ke
kiri dan ke kanan mencoba
menahan rangsangan baru yang
dilakukan pak Dulah.
Tiba-tiba Monna memekik
kecil saat tanpa berkata
apapun, pak Dulah menyibakkan
lebar-lebar ke dua kaki
Monna yang sebelumnya
masih terentang berdekatan.
Monna sadar akn apa yang
akn dilakukan oleh mertuanya
kemudian. Dgn lirih menahan
segala gairahnya Monna
masih berusaha berbisik
mengingatkan pak Dulah
“Jangan ayah.. jang.. auuuh”,
bisiknya terpotong saat batang
pak Dulah yang sudah hampir
setengah jam tegak itu
menerobos msk ke dlm
liang kemaluannya. Dua tangan
perkasa pak Dulah mengunci
bahunya sesampai dia tak
mampu melawan saat tubuh
tambun mertuanya mulai
menindih raganya. Kedua kaki
Monna yang terbuka
memudahkan batang pak Dulah
memski lubang vaginanya.
Sedikit demi sedikit batangnya
disodok-sodokkan keluar msk
dlm liang yang telah basah
berlendir tersebut, awalnya
pelan kemudian makin lama
makin laju. Kadang-kadang pak
Dulah menahan batangnya di
tengah liang kemudian memutar
pinggulnya pelahan dan mantap
bergantian ke arah kiri dan
kanan, lalu kemudian tiba-tiba
dibenamkannya lg dlm-dlm
sampai menembus pangkal
vagina Monna. Lama kelamaan
Monna tidak mampu lg
berbuat apa-apa selain
mengikuti langgam sodokan dan
tarikan ayah mertuanya.
Terlebih lg krn bibir dan
lidah pak Dulah tak pernah
henti menyapu perut, dada,
leher, dan bibir Monna. Satu
waktu saat menyodokkan
batangnya dlm-dlm, bibir
pak Dulah secara bersamaan
melumat puting kiri dan kanan
Monna secara bergantian.
Monna hanya mampu
memejamkan mata menahan
kegairahan yang telah
menguasai dirinya lalu setelah
hampir lima belas menit lolong
kecilnya kembali terdengar di
sela-sela deru nafas pak Dulah
“’emmmm.. urrrghh.. aaahhhhhh,
aaahhhh, aahhhh, ” Untuk
kedua kAntonnya perempuan cantik
itu meledak dlm birahi.
Dagunya kemudian mendongak
dgn mata yang membola
meskipun bibirnya telah
terkatup rapat.
Pak Dulah menyeringai lebar
saat melihat menantu
tersayangnya tenggelam dlm
kenikmatan. Ditunggunya sampai
kepala Monna terkulai lg ke
lantai dan matanya terpejam.
“hmm.. ayo sayang, permainan
kita belum selesai.. ” geram pak
Dulah saat dia dgn kasar
membAntonkkan tubuh Monna.
Pak Dulah yang nafsunya masih
tidak puas, memaksa Monna
yang sudah tidak berdaya itu
untuk menungging dgn siku
menempel lantai. Segera
disibakkannya dua bongkah
pantat untuk membuka jalan
bagi batangnya yang masih
tegak mengacung ke arah liang
kemaluan Monna. Setelah
menggigit dua bongkahan
daging itu dgn bernafsu,
tangan pak Dulah memegang
sisi punggung menantunya lalu
menekan batangnya kedlm
lubang vagina Monna.
Punggung Monna yang besar
dan putih membuatkan pak
Dulah semakin bernafsu.
“Aaah.. sakkkiiitttt .. ayahhh.. “,
jerit Monna saat liang
vaginanya kembali ditusuk-
tusuk oleh batang pak Dulah
dgn beringas. Sodokan-
sodokan pak Dulah dgn
gaya doggy style ini sedemikian
laju sesampai kembali membuat
Monna merem melek dan
mendesisi-desis, namun ketika
merasakn bahwa tubuh pak
Dulah mulai mengejan seakn
menuju klimaks, Monna pun
panik dan berusaha menahan
goyangan sang mertua menjerit
“.. jangaannn, jangn lepaskan
didlmm.. yahh’, pintanya
dgn lirih. Pak Dulah sesaat
berhenti dan kemudian berkata
“Baiklah Lina tapi dgn satu
syarat”, kata pak Dulah. “Lina
harus hisap batang ni sampai
keluar air kalau tidak ayah
lepaskan mani ayah ke dlm
rahimmu, bagaimana?”.
“Baiklahhh” jawab Monna
dgn pasrah. Pak Dulah segera merambat
naik menuju ke arah kepala
Monna yang sudah kembali
telentang di lantai. Dia
meletakkan kedua lututnya di
samping Monna dan kemudian
menarik wajah ayu yang tengah
lunglai itu untuk menghadap
batangnya yang masih tegak.
“Ayo Lina, kulum batang ayah”.
Walaupun jijik, Monna
terpaksa mengulum batang pak
Dulah. Batang yang hitam dan
berotot itu segera saja
emmenuhi rongga mulut
Monna. Kuluman demi kuluman
segera dilakukan Monna
dgn sis tenaga yang ada.
SeesekAnton pak Dulah
memintanya bergantian untuk
menjilat, mengulum dan
mengocok. Sudah lebih lima
menit Monna melakukan itu
semua namun pak Dulah belum
menunjukkan tanda-tanda ingin
berejakulasi. Malahan pak Dulah
terus meramas buah dada
menantunya itu. Akhirnya
Monna kepenatan. ‘Ayah.. jangan dilepaskan di
dlm.. ayah.. ‘, rayu Monna
setengah sadar saat tenaganya
telah musnah dan kesadaran
mulai meninggalkan dirinya.
Monna pun pingsan krn
keletihan. Melihat hal ini pak
Dulah kembali menyeringai
lebar. Direngkuhnya tubuh
menantunya yang sudah
terkulai lemas tersebut lalu
direntangkannya kembali kedua
kaki Monna. Tanpa disadari
Monna, pak Dulah kembali
membenamkan batangnya ke
dlm liang kemaluan
menantunya serta melakukan
sodokan-sodoakn yang lebih
liar dan kencang daripada
sebelumnya. Sesaat kemudian
pak Dulah pun mengejan
wajahnya tegang mendongak
ke atas dgn batang yang
tertanam penuh dlm liang
vagina Monna, lalu “
Aaaaargh, Linaaaaa, . aarrghhh.. ” cairan
sperma menyembur dari batang
pak Dulah memenuhi setiap
lekuk dan liku vagina Monna
dan mengAntonr deras menuju
rahimnya. Pak Dulahpun terkulai
lemas di atas tubuh sang
menantu. Setelah beristirahat selama
satu jam, pak Dulah pun
bangkit. Monna masih terkulai
lemah di lantai kamar mandi.
Pak Dulah tersenyum puas
mengingat kembali pengalaman
indah yang dirasaknnya
bersama Monna. Dgn hati-
hati pak Dulah membopong
tubuh Monna kembali ke
kamar setelah mengenakn
pakaiannya. Dia pun menunggu
Monna tersadar dan
mengancam menantunya
tersebut untuk tidak
menceritakn apa yang terjadi
kepada Anton. Akhirnya, setelah
Dzuhur, pak Dulah meninggalkan
rumah dan terus pulang ke
kampung. Monna yang malu
telah merahasiakn kejadian itu
dari pengethan suaminya
selama berbulan-bulan dan
berharap mertua jahanam
tersebut tidak pernah akn
muncul berkunjung lg.
Dua bulan berlalu sejak
peristiwa di bilik mandi tersebut
dan Monnapun mendpti
dirinya hamil. Suaminya, Anton,
gembira tiada kepalang
mendpt berita itu tanpa
mengethi perkara
sebenarnya. SebAntonknya
Monna sgtlah gelisah.
Walaupun pak Dulah telah
berjanji untuk tidak
menumpahkan spermanya ke
dlm liang kemaluannya, namun
krn tidak sadarkan diri
Monna tidak pernah th
pasti akn hal itu (baca bagian
1) . Hanya saja, Monna
memilih untuk memendam
ketakutannya itu sambil
berharap agar mertua
jahanamnya tersebut tidak
berbuat curang dan tak lg
datang untuk mengganggu
kehidupannya kembali.
Monna pun melahirkan
seorang bayi pria yang
sehat. Selepas 7 bulan
melahirkan Hafiz, anak laki-
lakinya tersebut, dia hidup
dlm kebahagiaan bersama
dgn suaminya. Pak Dulah
yang menghilang tiada kabar
berita membuat hidupnya
perlahan-lahan kembali mulai
tenang. Hanya saja,
kebahagiaan itu tidak berusia
panjang. Suatu petang,
sepulang Anton dari mengajar di
sekolah, dia berkabar bahwa
pak Dulah akn berkunjung lusa
untuk menengok cucu
pertamanya. Dingin terasa
sekujur tubuh Monna saat
mendengar berita dari suaminya
tercinta. Kedamaian yang dia
pikir telah didptkan tiba-tiba
saja kembali terancam bahaya.
“Ada apa, Lina? Kamu tampak
terkejut mendengar bapak
hendak berkunjung?”, tanya Anton
padanya, “Kau tak suka kah dia
menengok Hafiz?” tanyanya
lebih lanjut. “Ti.. tidak, bang. Li,
Lina hanya kaget krn sudah
sethn lebih beliau tiada
berkabar berita.. “, Monna
berusaha menutupi
kegugupannya. “, h, bapak
memang selalu begitu. Sethn
ini dia berniaga ke Trengganu
dan baru th kelahiran Hafiz
dari bibi saat pulang kampung
kemarin.. ” tutur Anton tanpa
menangkap gebalau perasaan
Monna. “Begitukah, bang?
Tapi kalau memang lusa beliau
datang, Lina harap abang bisa
menunda kepergian abang ke
Kedah sampai beliau pulang”,
bujuk Monna, “Lina takut
tidak bisa menjamu beliau
dgn baik kerana sibuk
menjaga Hafiz”, pinta Monna
dgn cemas. “Baiklah, Lina,
krn bapak cuma tiga hari di
sini, abang akn tunda
perjalanan ke Kedah sampai
beliau kembali ke kampung”,
kata Anton. “Terima kasih, bang”,
Monna menghela nafas lega
krn tidak akn sendirian
menghadapi pak Dulah.
Pak Dulah datang lusa petang
dgn dijemput Anton di stesen
bas. Tidak bnyk yang
berobah dari mertuanya itu
dari saat terkahir mereka
berpisah. Perutnya makin
tambun dan kulitnya makin
legam, namun yang membuat
Monna gemetar adalah
tatapan mata pak Dulah yang
makin liar setiap kAnton
memandang ke arahnya. Mata
yang tajam itu seakn mampu
menengok menembus kerudung
dan baju kurung rapat yang
selalu dipakai Monna. Tatapan
mertuanya itu membuatnya
mual dan berkunang -kunang
setiap kAnton mereka bertemu
pandang krn mengingatkan
Monna kembali atas apa yang
telah dilakukan pak Dulah
terhadapnya. Seakn masih
terasa benar kecupan-kecupan
panas dan remasan kasar pak
Dulah di sekujur tubuhnya.
SebAntonknya, pak Dulah bersikap
seakn tiada pernah terjadi
apapun di antara mereka.
Dua hari sejak kedatangannya
semua masih aman bagi
Monna. Pak Dulah lebih
bnyk berbincang dgn Anton,
sedangkan Monna lebih sering
menghindar dan meminta mak
Siti, janda tetangga sebelah,
untuk menemani menjaga Hafiz
setiap saat Anton harus pergi
mengajar. Namun, naas menimpa
pada malam terakhir. Seusai
santap malam, Monna sibuk
mencuci piring di dapur
sementara Anton dan pak Dulah
sedang berbincang di teras
depan. Monna bersenandung
kecil, hatinya dipenuhi kelegaan
krn esok semua sumber
ketakutan dan mimpi buruknya
dlm dua hari terakhir akn
berlalu. Pikirannya yang
menerawang sambil sibuk
membasuh piring sisa santap
malam membuatnya tidak
bersiaga dan tak sedar saat
seseorang berjingkat memski
dapur. “, ough.. “, Monna terpekik
saat sebuah lengan yang kekar
melingkar di pinggangnya yang
ramping dan di saat bersamaan
sebuah kecupan yang ganas
mendarat di tengkuknya,
menembus kerudung yang
dikenaknnya. “ Lina.. kamu
semakin cantik ya.. “, suara
serak yang berbisik lirih
ditelinga Monna kemudian
serasa melumpuhkan seluruh
indera wanita muda tersebut.
Benaknya tercekam dgn
kengerian oleh ingatan
peristiwa memalukan yang
dialaminya sethn lalu dan
gelas yang tengah dicucinya
pun terlepas dari gengamannya.
“kenapa, sayang? Kamu tak
rindukah dgn ayah.. ? Ayah
kangen sekAnton Lina.. “. Pak Dulah
yang kini telah memeluk Lina
dari belakng tidak menyia-
nyiakn kelengahan dan
keterkejutan Monna. Sambil
terus berbisik dan menciumi
tengkuk dan bahu menantunya
yang masih tertutup jilbab
lebar, tangan kiri pak Dulah
yang semula melingkar di
pinggang Monna perlahan
merayap turun mengarah ke
pangkal paha terus ke bagian
depan kemaluan Monna.
Sementara itu di saat yang
bersamaan jari-jemari tangan
kanannya menyusup di bAntonk
baju kurung longgar yang
dikenakn Monna dan dgn
cepat menyusur dari perut ke
arah dadanya. “Aaaugh.. aayah.. ach.. bang
aAntoni.. auugh.. toolong.. ” Monna
menjerit tertahan menahan
kecupan yang bertubi-tubi
diterimanya. Tubuhnya yang
semampai terbungkuk ke depan
saat jemari kasar pak Dulah
yang terentang lebar telah
menggenggam organ
kewanitaannya dan mulai
meremasnya dgn ganas.
Kedua tangan Monna
mencengkeram erat tepi
tempat mencuci piring
sedangkan paha kanannya yang
secara refleks bergerak ke
depan mencoba menahan
serbuan pak Dulah walaupun
tanpa disadarinya justru
menjepit cengkeraman pak
Dulah di vaginanya lebih erat.
Pak Dulah terkekeh melihat
reaksi gugup menantunya
tersebut. Jepitan paha
Monna tidak mampu
menghalangi kelincahan jari
jemarinya untuk tidak hanya
meremas namun juga sesekAnton
menusuk celah kemaluan
Monna. “Aaauch, “, belum lg
Monna mampu meredam
permainan jari lelaki tua
tersebut, matanya yang semula
terpejam menjadi terbeliak dan
tubuhnya yang merunduk
tersentak ke belakng saat
jemari pak Dolah yang lain
berhasil msk di bAntonk kutang
sutranya serta mulai meremas
payudara dan memilin puting
susu kanannya serta menjepit
dan menarik-nariknya. “Tenang,
Lina. Anton sedang bertandang ke
rumah Hassan. Ayah pastikan
kita punya waktu yang cukup
untuk sAntonng melepas
rindu. he. he.. he. “, pak Dolah
melanjutkan bisikannya sambil
kesepuluh jemarinya bekerja
meremas, menusuk, mengobel,
memilin dan mencubit dgn
buas. Monna seakn lumpuh
mendengar perkataan
mertuanya. Tubuhnya
bergantian terhentak ke
belakng serta terbungkuk ke
depan saat remasan-remasan
yang dilakukan pak Dulah
bertubi-tubi mengaduk vagina
dan payudaranya.
“Serangan” yang dilakukan pak
Dulah baru berlangsung tak
lebih dari sepuluh menit namun
waktu seakn berhenti bagi
Monna. Kain kurungnya telah
tersingkap sampai ke pinggang
sesampai tangan kanan pak
Dulah dgn leluasa sudah
mencengkeram bulat-bulat
kewanitaan Monna dari bAntonk
celana dlm satinnya. Jari
tengahnya sudah bermain
dgn kelentit menantunya
dan tak jemu mengocok liang
kewanitaan Monna yang mulai
basah dgn cairan
kewanitaan yang membanjir.
Sementara itu lidah dan bibir
pak Dulah tanpa henti
mencecap dan menjilat leher
jenjang Monna yang telah
terbuka krn kerudung
putihnya telah disingkapkan ke
atas dan menutupi wajahnya
yang tertunduk lemah. Tiadanya
perlawanan yang berarti dari
Monna tersebut tentu saja
juga memudahkan kerja pak
Dulah di payudara wanita itu.
Bergantian sepasang bukit yang
ranum itu dijelajahinya bolak-
bAntonk dgn mudah. Telapak
tangannya memutar dan
meremas, mencengkeram keras
dan menekan-nekan tiada
hentinya gundukan daging yang
lembut dan kenyal tersebut.
Pandangan Monna makin lama
makin gelap, remasan dan
permainan jari yang dashyat
dari sang mertua membuat
kesadarannya main melayang.
Nafasnya makin lama makin
tersengal. . SebAntonknya, pak
Dulah makin bersemangat.
Tangannya yang semula sibuk
mengocok liang kewanitaan
Monna secara kasar
menyentakkan celanan dlm
sang menantu dan menariknya
ke arah bawah. Tanpa bisa
dicegah kain segitiga satin yang
mungil itu terus melorot sampai
ke bawah lutut. Pak Dulah
terpana melihat bongkahan
pantat mulus yang kini tersaji
dihadapannya. Tanpa sedar dia
berdecak “ck. ck. ck.. , betapa
indahnya engkau Lina.. ‘. Kedua
tangan bandot tua itu segera
saja meremas dgn gemas
daging yang lembut itu.
Monna hanya mampu
menggeliat kecil ketika sebuah
rangsangan yang hebat
merambat dari remasan pak
Dulah dan menggetarkan
seluruh inderanya. Tanpa
menunggu reaksi sang menantu
lebih lanjut, pak Dulah berlutut
di belakng Lina sesampai
wajahnya sejajar dgn celah
pantat Monna. Kedua
tangannya kemudian
mencengkeram paha Monna
dan kemudian menyibakkannya
lebih lebar. Sekejap kemudian
pak Dulah menundukkan
kepalanya dan mulai memainkan
bibir dan lidahnya di kemaluan
wanita malang itu.
Pertama-tama ditekankannya
wajahnya ke seluruh
permukaan vagina Monna
yang sudah basah kuyup akibat
ketrampilan jari-jemari pak
Dulah. Dihirupnya dlm-dlm
bau harum vagina sang
menantu yang telah bercampur
dgn bau merangsang cairan
kewanitaannya. “Sruup,
sruuuup, “, bibirnya mendecap
limpahan cairan tersebut dan
memagut erat celah kewanitaan
Monna yang telah menguak
lebar. Seluruh tubuh Monna
bergetar lemah, bibirnya tak
mampu memekik dan hanya
berbisik lirih saat lidah kasar
sang mertua mulai menyusuri
tiap jengkal vaginanya. Lidah itu
bergerak liar tidak hanya
menyusur ke dlm liang
kenikmatannya namun juga
menyapu tandas setiap celah
lipatan yang ditemuinya.
Decapan-decapan bibir yang
ditingkahi gigitan-gigitan kecil
yang terus berulang membuat
Monna luluh. Tubuhnya kini
sepenuhnya tiarap bertumpu
sepenuhnya pada bak cucian
tanpa daya. Kepalanya hanya
menggeleng ke kiri dan ke
kanan saat gigi-gigi pak Dulah
menggigit ganas bongkahan
kewanitaannya. Namun agaknya pak Dulah
belum merasa puas. Setelah
direguknya kelezatan vagina
Monna, diapun bangkit
kembali. “Tahan sayang.. ayah
masih mau ragakn satu
permainan lg, he.. he. he.. “,
sambil terkekeh kecil pak Dulah
menekan tubuh menantunya ke
depan sampai makin
mencondong ke bak cucian
sementara tangan kirinya
menjemba pinggang Monna
dan menunggingkannya sedikit
ke atas. Diturunkannya
resleting celananya yang sudah
sesak dgn batang penisnya
yang telah menggembung dari
tadi. Segera teracunglah
batang yang liat dan hitam itu
di depan bongkahan pantat
Monna. Tanpa aba-aba
batang itu menusuk deras ke
dlm celah pantat Monna.
“Aaaarghhh, ” selunglai apapun
Monna, tubuhnya mengejang
hebat saat penis perkasa sang
mertua dgn laju menyumpal
kewanitaannya. Tubuhnya yang
semula seakn teronggok lemah
di meja bak cucian tiba-tiba
terangkat, wajahnya memerah
dgn bibir yang membulat
sebelum kemudian kembali luluh.
Kegelapan mulai merayapi
pandangan Monna saat
pantatnya berguncang-guncang
mengikuti irama sodokan penis
pak Dulah. Tusukan-tusukan
pak Dulah yang makin lama
makin kencang dan dlm itu
seakn menghentak-hentak
kesadaran wanita malang
tersebut. Dia hanya mampu
bergumam lirih setiap sodokan-
sodokan panjang yang
dilakukan pak Dulah bergantian
dgn tusukan-tusukan
pendek dan cepat menghujam
dlm-dlm ke vagina
Monna. Dlm keadaan yang
sgt menderita tersebut
Monna hanya dpt berharap
agar mertuanya tersebut tidak
sampai berejakulasi dan
menumpahkan spermanya ke
dlm peranaknnya. ntunglah, sebelum Monna
kehilangan kesadaran secara
penuh dan pak Dulah mencapai
puncak, tiba-tiba terdengar
bunyi pintu pagar berderit dan
salam diucapkan. “Bedebah. “,
pak Dulah menggeram pelan
dan menyumpah-nyumpah
krn menyadari Anton telah
pulang. Ditusukkannya penisnya
ke liang kemaluan Monna
untuk terakhir kAntonnya sambil
berbisik ” sudah dulu ya
sayang.. “. Bibir Monna
mendesis lemah saat menerima
tusukan yang dilakukan pak
Dulah dlm-dlm tersebut.
Pak Dulah bergegas melepaskan
pelukannya dan menarik celana
dlm satin Monna kembali ke
atas. Dgn sigap dia
menegakkan tubuh Monna
serta menurunkan kembali baju
kurung dan kerudung
menantunya sesampai seluruh
tubuh wanita itu kembali
tertutup rapat. Sebelum
meninggalkan dapur dia berbisik
lirih ke telinga Monna “
Jangan kau bilang ini kepada Anton,
sayang jika kau masih sayang
anakmu .. ” Kemudian dgn
sigap dia bergerak keluar dapur
menuju ruang tamu untuk
menyambut Anton di beranda untuk
memberikan waktu pada
Monna membenahi diri dan
memulihkan kesadarannya.
Monna masih bertumpu lemah
di bak cuci, pandangannya
nanar dan pikirannya masih
beku. Benaknya dicekam
kengerian mendengar ancaman
mertuanya tersebut. Dia sadar
bahwa bajingan tua itu tidak
sekadar menggertak. Namun,
dia bersyukur bahwa Anton datang
sesampai dia bisa terhindar dari
aib yang lebih besar. Dia
berharap malam segera berlalu
dan esok mertua durjananya
segera pulang ke kampung
sesampai mimpi buruknya akn
berakhir.
TAMAT

Incoming search terms:

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *