Cerita Dewasa Bersetubuh Dengan Wanita Perawan

Posted on

Cerita Dewasa Bersetubuh Dengan Wanita Perawan | Sebuah cerita ngentot lepas keperawanan, kisah dua orang ABG yang ngeseks akibat terpancing menonton video bokep. Keduanya penasaran dengan adegan ML yang ada di film yang mereka tonton dan akhirnya keduanya ngentot dan melepaskan hasrat birahinya yang sebelumnya dipendam.

Cerita Dewasa Bersetubuh Dengan Wanita Perawan Cerita Dewasa Bersetubuh Dengan Wanita Perawan Cerita Dewasa Bersetubuh Dengan Wanita Perawan lubang pepek merah cewek abg cantik imut menggoda 1

Cerita Dewasa Bersetubuh Dengan Wanita Perawan | Singkatnya, begitu Andi men-scanning FD tersebut dengan antivirus di komputernya, terlihat sepintas ada folder yang bernama ‘jangan dibuka’, ditambah lagi tampak dilayar komputer, isi dari folder tersebut terdapat film-film berdurasi pendek yang berbentuk file 3gp. Tentu saja hal tersebut memancing rasa penasaran Andi untuk melihatnya.

Melihat ikon film berjenis 3gp tersebut otomatis membuat Andi langsung berpikiran buruk. Karena biasanya film berjenis file 3gp biasanya adalah film-film dewasa yang tidak pantas dilihat oleh anak yang masih dibawah umur apalagi bagi Santi. Saat ditanya dari mana asal file-file itu, Santi yang berada disamping Andi menjawab tidak tahu menahu. Masih diliputi dengan rasa penasaran, Andi berkeinginan mencoba mengklik salah satu file tersebut setelah men-scan. Santi hanya mengamati apa yang dilakukan Andi di sebelahnya.

Setelah proses scanning FD selesai, saatnya Andi berniat mengklik folder tersebut meskipun nama folder tersebut ‘jangan dibuka’. Dan ternyata dugaan Andi memang benar. Andi menemukan beberapa ikon file-file film 3gp berdurasi pendek dan berkapasitas kecil.

Begitu Andi mengklik salah satu film 3gp itu, tampaklah adegan film yang belum pernah Santi saksikan sebelumnya. Gadis cilik yang baru menginjak usia remaja itu otomatis tak sengaja ikut menonton suatu adegan dari sepasang aktris yang berlainan jenis kelamin yang sedang asyik bercumbu.

Entah apa yang ada di pikiran Santi ketika mendadak melihat sepasang orang dewasa berjenis kelamin berbeda yang sama-sama telanjang bulat dan asyik bergelut mesra. Yang pasti, gadis itu tampak tertegun saat menonton film dimana semua aktrisnya tidak mengenakan busana sama sekali. Boro-boro menonton film dengan aktris telanjang, melihat film yang ada adegan berciuman di mulut saja dia belum pernah. Maklumlah, Santi adalah anak orang desa yang tinggal jauh dari kota, dia sangat jarang menonton film.

Namun kali ini, si Santi mendapatkan kesempatan langsung menonton sepasang orang dewasa berlainan jenis kelamin itu saling beradu kemesraan di atas ranjang. Dari pengakuannya saat ditanya, Santi tidak pernah melihat seorang laki-laki atau wanita dewasa sedang telanjang bulat di depan matanya apalagi melihat bagaimana rupa kemaluan milik orang laki-laki yang sudah dewasa. Sehingga baru kali pertama ini Santi bisa melihat bagaimana bentuk burung milik seorang laki-laki sekaligus postur tubuh seksi dari wanita yang sudah dewasa.

Andi jadi maklum jika raut muka Santi masih tercengang ketika film tersebut mempertontonkan adegan telanjang dimana kedua matanya dapat menyaksikan langsung bentuk bagian kemaluan milik seorang laki-laki yang masih lemas sedang menjuntai ke bawah. Di sekitar kemaluan lelaki tersebut tampak pula rambutnya yang agak lebat dan berwarna agak coklat. Sesekali pen|s yang masih lemas itu terselip di balik pinggul wanitanya saat kedua insan tersebut memainkan adegan pemanasan. Kepala mereka seakan hendak menjadi satu saat asyik beradu mulut dan kedua mata mereka tampak saling terpejam seakan-akan sedang berusaha menyelami segala kenikmatan yang mereka rasakan.

Tampak pula, kedua tangan lelakinya tidak ada hanya bergerak mengelus-elus sekujur tubuh wanitanya. Sesekali kedua tangan tersebut juga bergerak mengusap-usap dan meremas-remas lembut di bagian buah dada milik wanitanya. Selangkangan wanita tersebut juga tidak luput dari rabaan. Andi mempercepat adegan film itu karena tidak sabar ingin tahu bagaimana reaksi gadis manis di sebelahnya.

Aksi pada adegannya pun berganti. Santi sepertinya mendadak jadi panas dingin dan duduknya juga semakin tidak begitu tenang. “Iih!”, tiba-tiba gadis cilik itu langsung memalingkan kepalanya ke sekitar ketika film tersebut memperlihatkan adegan burung milik lelaki yang masih lemas itu sedikit demi sedikit mulai masuk ke dalam mulut milik wanitanya untuk diemut..

Andi sesekali mengamati secara tidak langsung bagaimana reaksi Santi. Tampaknya gadis itu mulai digelitik rasa penasarannya meskipun wajahnya masih tetap berekspresi jijik terhadap adegan yang sedang dilihatnya. Bagaimana tidak, persepsi Santi mungkin masih mengatakan bahwa kemaluan itu berfungsi untuk mengeluarkan kotoran atau air kencing. Tapi di dalam adegan tersebut, dia melihat bagaimana sang wanita sangat agresif dan tampak sangat asyik menjilati kemaluan laki-lakinya tanpa merasa jijik sedikit pun.

Santi kembali dibuat tertegun tapi samar seketika menyaksikan kemaluan milik seorang lelaki itu berubah semakin memanjang dan tegak mengeras di dalam mulut wanitanya, berbeda jauh dengan sebelumnya yang masih lemas. Andi mulai berniat menggoda keponakannya yang manis itu,
“Loh burungnya mulai berdiri tuh San!”
“Hiiih… iya koq bisa begitu?“ tanggapnya seraya kedua tangannya bergerak menutupi mulutnya.
Santi melihat adanya perubahan bentuk pen|s milik lelaki dewasa yang kini perlahan berubah menjadi menegang keras. Burung itu semakin membesar dan berdiri kaku saat berada di dalam kuluman mulut dan sesekali dijilati dengan lidah. Tampak disekitar kemaluan lelaki itu penuh dengan air liur mulut milik wanitanya. Pemandangan itu tentu saja mengundang hawa panas tidak hanya Andi, sekujur tubuh Santi pun sepertinya jadi mendadak menggigil dan hembusan nafasnya semakin jelas memberat. Andi berulangkali melihat kerongkongan Santi bergerak naik turun. Dia pun demikian.

Santi memalingkan kepalanya lagi, kali ini terlihat mengutak-atik hp kecilnya, entah apa yang diperbuat dengan hp tersebut. Andi berusaha membaca bahasa tubuh Santi. Tampaknya Santi masih agak kikuk atau mungkin mulai terbiasa melihat adegan menjilat kemaluan milik lelaki itu atau bisa juga masih jijik, tidak jelas. Andi kembali mempercepat film tersebut untuk melihat adegan selanjutnya yang tidak kalah panas.
“Wah sekarang gantian titit si wanitanya yang dijilatin” Pancing Andi agar Santi kembali melihat adegan mesum tersebut. Upayanya berhasil, Santi terpancing untuk menyaksikannya.
“Hmmm…” responnya singkat, kali ini tampaknya dia sangat tertarik. Kedua matanya terpaku pada adegan film tersebut.

Santi menjadi merinding kali ini setelah tadinya mendadak panas dingin. Andi sempat menangkap bahasa tubuh Santi sesaat menggeletar samar. Entah lagi-lagi Santi merasa di sekitar kemaluannya mendadak geli dan basah, bahkan mulai terasa seperti kebelet pipis. Posisinya duduknya yang awalnya bersila kini tampak gelisah dan bolak balik berusaha menyesuaikan posisi duduknya agar bisa nyaman. Kedua kakinya bergerak menutup untuk mengurangi kegelisahannya.

Tampak lidah milik lelaki di dalam film tersebut bergerak lincah menjilati seluruh permukaan kemaluan milik wanitanya, bahkan dibantu dengan kedua tangannya untuk membuka guratan vag|nanya agar semakin bebas membuat wanita itu mengerang keenakan. Santi melihat bagaimana lidah lelaki itu bergerak lincah menggeser-geser liang kewanitaan pasangannya, sesekali disertai dengan mulut yang menyedot kuat di bagian klitorisnya.
“Hmmm..” gumamnya Santi lagi.
“Pasti geli banget tuh” kata Andi setengah berbisik.

Santi semakin dibuat gelisah tapi kedua matanya seakan susah untuk dialihkan dari rasa penasarannya yang sudah terlanjur tinggi ketika melihat berbagai aksi di dalam film dewasa yang mesum tersebut. Kedua mata Santi benar-benar terpaku menyaksikan dengan seksama adegan film tersebut. Setelah semua sisi permukaan kemaluan wanita itu dibuat basah dan mengerang puas karena jilatan lidah, Sang lelaki kemudian beranjak melepaskan jilatan lidahnya. Mulutnya kini bergerak menciumi seluruh kulit tubuh pasangannya dengan lembut mulai dari arah kemaluan hingga merambat semakin ke atas. Lelaki itu pun bergerak menggagahi perempuannya yang sudah berposisi telentang dengan kedua kakinya terbuka bebas mengangkang memperlihatkan kemaluannya. Santi mungkin membatin, apa yang hendak dilakukan sang lelaki tersebut?, Andi menduga-duga.

Pertanyaan dari rasa penasarannya seketika itu langsung saja terjawab. Sang lelaki merangkak naik dengan perlahan hingga tepat di atas tubuh wanitanya, kemaluannya yang tampak menegang keras dan besar itu langsung disambut lembut salah satu tangan milik pasangannya. Kemudian, dengan gerakan perlahan, sang lelaki menurunkan pinggulnya sedikit seakan-akan menuruti tangan pasangannya yang mengarahkan pen|snya untuk menempel di vag|nanya yang bebas terbuka. Santi semakin berdebar-debar menyaksikan adegan tersebut. Dia sepertinya tidak ingin kehilangan adegan di mana rasa penasarannya terhadap pen|s milik lelaki itu untuk diapakan oleh sang wanita ketika tangannya tampak menarik pelan batang pen|s tersebut. Perlahan tapi pasti dan seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat itu, rasa penasarannya kembali terjawab, pen|s milik lelaki itu dituntun ke arah selangkangan milik wanitanya.
“Glekh!”
Santi kembali menelan air liurnya sendiri membasahi kerongkongannya yang seakan-akan terus mengering.
“aahhh…” terdengar desahan pendek ekspresi nikmat dari mulut wanitanya pada saat bagian ujung pen|s milik lelaki itu mulai menyentuh permukaan vag|na miliknya, kemudian berlanjut dengan lenguhan yang agak panjang, “Ouuuhhh..”. Santi menyaksikan detik demi detik bagaimana pen|s lelaki dewasa itu perlahan bergerak menekan-nekan dan terus mendesak hingga membelesak masuk penuh ke dalam liang di selangkangan milik wanitanya.

Santi tampaknya terlihat agak terperangah. Dia tidak pernah sedikitpun mengira pada awalnya jika seluruh batang pen|s milik lelaki dewasa yang sangat panjang dan besar itu dapat masuk seluruhnya ke dalam liang vag|na milik wanitanya yang terlihat sempit.
“Iiihhh..” gumam Santi saat melihatnya.
Tampak burung milik lelaki itu kini digunakan untuk mengaduk-aduk dan mengoyak-oyak seluruh liang bagian dalam kewanitaan pasangannya itu.
“Iiihh…” gumamnya lagi ketika Santi melihat adegannya berlanjut dengan aksi gerakan maju mundur pinggul lelakinya yang mulai menggenjoti liang vag|na wanitanya dengan batang pen|snya yang sudah menancap. Gadis yang masih imut itu menyaksikan dengan jelas bagaimana adegan kemaluan lelakinya bergerak keluar masuk di liang vag|na milik pasangannya tanpa henti. Dari aksi tersebut terdengar jelas iringan suara desahan wanitanya yang tengah menikmati genjotan pen|s milik lelaki diatas tubuhnya. Dengan jarak yang sangat dekat antara kamera dan kemaluan kedua insan yang sedang bergelut panas tersebut, Santi bisa melihat jika batang pen|s lelaki itu tampak basah dan sedikit berbusa.
“Itu apanya Mas?” Tanyanya penasaran pada Andi.
“oh itu adalah akibat dari cairan pelicin milik kemaluan wanitanya yang keluar dan tergesek-gesek burung cowoknya, seperti orang klo nyuci baju gitu digesek-gesek bisa keluar busanya” Jawabnya setengah asal.
Kemudian, mendadak Andi menyudahi film tersebut tanpa menunggu usainya setelah melihat hasil transfer file-file pelajaran yang dibutuhkan Santi telah selesai. Begitulah asal mula bagaimana Santi kali pertama dalam hidupnya bisa melihat tontonan film dewasa. Malamnya Santi tidur dirumah Andi karena keesokan paginya Andi sudah berjanji mengajak Santi jalan-jalan ke kota.

Andi semalaman masih betah duduk di depan komputernya hingga tiba pada waktu dini hari. Andi tidak menyadari jika Santi ternyata terbangun diam-diam. Mungkin telinganya menangkap suara-suara saat si Andi sedang mengetik atau terganggu akibat suara dari adegan film dewasa yang kembali diputarnya setelah menyelesaikan kerjaannya. Dari atas ranjangnya, Santi diam-diam mengamati apa yang dilakukan Andi dihadapan komputernya. Ketika sedang asyik-asyiknya menonton, si Andi dikejutkan dengan suara Santi.
“Film apa itu Mas?” tanya Santi setengah berbisik.
“Oh! Anu, ini film seperti tadi malam…” jawabnya setengah terperanjat.
Andi bukannya langsung menutup film tersebut tapi malah membiarkan film tersebut terus berputar dan tentu saja si Santi menjadi ikut menyaksikan dari atas ranjangnya. Kali ini si Andi menonton film dengan aktris dari Rusia. Tampak seorang gadis sedang dicumbu oleh seorang pria paruh baya. Dengan gerakan pelan, gadis itu hendak menduduki pinggul pria paruh baya yang burungnya sudah berdiri ke atas alias siap tempur.

“Burungnya mau ditindih tuh San” Kata Andi pada Santi.

“He ehm” jawab Santi lirih mengiyakan.
Keduanya pun terdiam menyaksikan adegan panas yang sedang berputar. Dengan gerakan lembut sembari mendesah-desah lirih, sang aktris dalam film tersebut berposisi jongkok dan berusaha memasukkan batang kemaluan prianya ke dalam liang vag|nanya. Santi bisa melihat dengan jelas bagaimana batang kemaluan milik pria tersebut mulai tenggelam sedikit demi sedikit seiring genjotan pinggul aktrisnya yang menekan ke bawah. Dalam hitungan beberapa detik, kedua mata Santi melihat batang kemaluan prianya sudah masuk seluruhnya ke dalam liang vag|na aktris wanitanya. Kemudian wanita tersebut bergerak liar menggoyang-goyangkan pinggulnya, menggesek-gesekkan selangkangannya, seakan-akan ingin cepat-cepat memuaskan rasa gatal di daerah kewanitaannya yang sudah basah. Sedangkan aktor prianya, tampak pasrah menikmati sensasi nikmat dari hasil goyangan pasangannya yang tampak liar, kedua tangannya menyibukkan diri dengan meremas-remas buah dada, sambil sesekali merangkul tubuh wanita itu dengan erat.

Suara erangan aktris wanitanya semakin kencang diiringi dengan gerakan menggoyangnya yang bertambah liar dan agresif. Pikiran Santi sudah tidak mampu memahami sensasi nikmat yang mungkin dirasakan oleh kedua pemain film tersebut.
“Enak tah Mas, digituin?” tanya Santi diliputi rasa penasaran.
“Klo nglihat di sini seh keknya keenakan banget, San” jawab Andi. “Apalagi klo ngelihat itu… titit wanitanya dimasukin burung prianya, habis gitu burung prianya digoyang-goyang ga karuan di dalam selangkangan wanitanya”, tambah Andi berusaha memanas-manasi.

Entah bagaimana perasaan Santi ketika menyaksikan adegan sangat panas dan menggugah hawa birahi itu ditambah dengan penjelasan Andi yang terkesan memancing. Yang pasti perasaan Andi senang dengan keberadaan Santi di rumahnya, apalagi bisa memancing rasa penasaran gadis muda yang baru menginjak usia remaja itu.

Adegan pun berganti, kini posisi wanita di dalam film itu menungging dengan posisi merangkak, sedangkan lelakinya mendorong-dorongkan burungnya dari belakang sambil kedua tangannya memegangi pantat wanitanya seakan-akan tidak mau jika pantat tersebut jadi terlempar. Santi menyaksikan bagaimana kemaluan pria tersebut mengaduk-aduk vag|na wanita itu. Suara erangan wanita itu terdengar kencang mengiringi gerakan pen|s prianya. Saking kuatnya dorongan pinggul prianya, sampai membuat wanitanya menengadahkan kepalanya ke atas. Tak berapa lama sedikit demi sedikit tumpuan tangan wanitanya mulai terlihat melemah hingga membuat tubuhnya ambruk tertelungkup di atas ranjang, sedangkan pantatnya masih menungging berusaha bertahan menerima kenikmatan gempuran pinggul prianya yang masih tetap bersemangat menyodokkan burungnya.

Lama kelamaan, wanita tersebut sepertinya sudah tidak kuat menahan nikmatnya gempuran sodokkan burung prianya hingga membuat pinggulnya ikutan tertelungkup. Tapi sang pria tampaknya terus mengejar kenikmatannya, dia tidak peduli dengan posisi wanitanya yang sudah tertelungkup, pinggulnya masih saja terus menekan-nekan ke dalam pantat wanitanya hingga tubuh prianya ikut tertelungkup menindih tubuh wanitanya.

Santi kini melihat tubuh wanitanya ditindihi sang pria dari belakang, tampak pantat pria itu terus bergerak-gerak menggenjot dan menggoyang pantat wanitanya ke segala arah. Santi menjadi ikut geli melihat pemandangan tersebut. Pikirannya menjadi membayangkan betapa gelinya selangkangan dia seandainya digoyangi seperti itu. Tangan kanannya segera menyambar guling di sampingnya kemudian dipeluknya erat-erat.

“Hhhhnnggg…” gumam Santi menggeliat seperti hendak melemaskan otot-otot tubuhnya yang kaku sembari memeluk kemudian menindih guling yang berada disampingnya.
“Ouhh… aawwhhh… oouuh…” terdengar suara erangan wanita yang semakin kencang terdengar dari film tersebut.

Telinga Andi mendengar suara ranjang yang ditempati Santi agak menderit-derit samar. Andi membatin, sepertinya Santi sedang gelisah. Sejenak Andi berpura-pura melihat sekitar tapi sebenarnya untuk memperhatikan keadaan Santi. Andi melihat kedua mata Santi masih tetap menyaksikan film tersebut dengan posisi tertelungkup sambil menindih gulingnya. Samar-samar tampak bahwa pantat milik gadis itu bergerak-gerak samar menekan gulingnya seakan-akan sedang berusaha menyelami sensasi adegan yang sedang dia lihat. Sesaat kemudian Andi mendengar hembusan nafas yang memberat dari arah Santi. Sepertinya Santi sedang diliputi perasaan yang membuatnya gelisah. Andi menduga kali ini Santi pasti sedang merasakan pengalaman sensasi baru, yakni perasaan yang diliputi gejolak gairah birahi.

Posisi Santi semakin tidak tenang, dia tidak menyadari jika pinggulnya yang bergerak menggoyangi gulingnya sendiri itu bisa menimbulkan suara derit ranjang yang dapat terdengar di telinga Andi. Tidak berselang lama kemudian Santi bergerak menumpukan kedua sikunya, agar goyangan dan tekanan pantatnya semakin terasa menggeseki selangkangannya di guling yang ditindihnya.

Adegan di film itu berganti posisi, kini mereka saling menindih dengan poisi berhadapan. Wanitanya telentang dengan kedua kakinya yang mengangkang lebar sedangkan prianya menindih tubuh wanitanya dengan telungkup. Kemaluan pemain film yang berlainan jenis itu tampak kembali menyambung dengan erat. Santi baru kali ini menikmati gairahnya. Tampak gadis itu semakin asyik menyelami setiap adegan pemandangan di dalam film tersebut tanpa peduli dengan Andi di dekatnya. Suara derit kasur yang ditempati Santi semakin jelas dan frekuensi deritannya semakin banyak daripada sebelumnya, tanda bahwa Santi juga diliputi hawa birahi dan berusaha memuaskan rasa geli di bagian kemaluannya.

Gairah di dalam diri Santi semakin menjadi-jadi. Gadis cilik itu kian semangat berusaha menyelami kenikmatan yang mungkin dirasakan oleh sepasang pemain di dalam film itu. Semakin lama menyelami, semakin sering menemukan berbagai perasaan geli dan nikmat yang silih berganti di dalam dirinya. Hal itu membimbing Santi semakin ingin memuaskan rasa geli yang menguasainya. Andi memaklumi apa yang dirasakan Santi. Dia membiarkan Santi berusaha mencari kepuasan dari dalam dirinya sendiri tanpa berniat mengganggu.

Santi semakin keranjingan akibat rasa kegelian karena menyaksikan adegan dimana sodokan kemaluan milik lelakinya semakin lama semakin cepat hingga membuat wanitanya semakin mengerang-erang tidak karuan. Tampak di selangkangan wanita tersebut batang pen|s itu bergerak maju mundur mengaduk-aduk. Meskipun begitu, sangat jelas terlihat jika wanita itu juga keranjingan, pinggul wanita itu juga ikut bergerak-gerak mengiringi sodokan pen|s. Jika dibuat slow-motion maka tampak jelas terlihat kedua pinggul mereka sama-sama saling bergerak maju mundur sengaja ditubrukkan, sehingga membuat seluruh batang pen|s itu bolak-balik masuk penuh hingga hanya tersisa pangkal dan buah pelirnya.

Tak ingin Santi cepat-cepat mencapai kepuasannya, Andi mendadak berinisiatif menutup filmnya diganti dengan film dewasa yang lain. Andi mengerti benar dari derit suara ranjang, jika film itu diteruskan, kemungkinan besar kegelisahan raga Santi akan terpuaskan dan Santi akan merasa jenuh sesaat. Tidak ingin terjadi seperti itu, Andi mengganti film lainnya, tentu saja kenikmatan yang dirasakan Santi harus dimulai dari awal lagi.

Begitu Andi mengganti filmnya, terdengar Santi spontan menggeliatkan badannya. Benar dugaan Andi, tekanan kegelisahan Santi sepertinya tidak jadi terpuaskan bahkan kembali seperti awal. Andi seakan-akan bisa mengendalikan nafsu Santi, atau mungkin malah merusak konsentrasinya.

Menggoda Santi, tidak membuat Andi luput dari serangan pengaruh birahi sendiri. Andi sudah dari tadi merasakan batang kemaluannya tegak mengeras dan ngilu akibat terganjal celana pendeknya. Semakin tegang batang kemaluannya membuat semakin terasa desakan nafsu yang bergejolak di dalam dirinya. Andi mulai dibayangi pikiran nakal terhadap Santi. Ingin sekali dia bisa menikmati gairah birahinya bersama dengan gadis muda yang baru menginjak usia remaja itu. Sesekali muncul niatan untuk mencari-cari kesempatan menggoda Santi.

Tetapi Andi tidak ingin mengambil resiko besar jika niatan isengnya berbuah petaka. Dengan susah payah dia berusaha untuk mengendalikan kesadarannya agar selalu sadar di dalam situasinya. Meskipun diliputi hasrat birahi yang sudah tinggi, Andi tetap berusaha menunjukkan sikap seperti biasa saja.
Hari sudah mulai menjelang subuh, suara kokok ayam mulai terdengar bersahutan. Mata Andi semakin terasa berat untuk dipaksa tetap membuka. Hingga akhirnya, kesadarannya pun menghilang secara tiba-tiba. Sedangkan film yang dia tonton belum ditutup, hanya tinggal seorang gadis muda yang baru menginjak usia remaja itu yang berkesempatan menonton film-film dewasa.

Merasa tontonannya bolak-balik kembali berputar seperti awalnya dan melihat Andi sudah terlelap, Santi memberanikan diri turun dari ranjangnya menuju komputer Andi untuk mengganti filmnya. Rasa penasarannya terhadap film dewasa itu membuat dirinya bergejolak penuh gairah yang sangat asing tapi nikmat.
Dilihatnya Andi sudah tertidur pulas dengan tertelungkup di sampingnya, tapi tak berselang lama dia menggigau dan mengganti posisinya telentang. Kedua mata Santi otomatis menangkap adanya pemandangan gundukan aneh yang bentuknya memanjang di bagian bawah perut Andi, tentu tak lain adalah burung Andi sendiri. Santi sesaat dibuat tertegun saat melihatnya. Tapi perhatiannya beralih ke komputer Andi.
Kedua tangan Santi mendadak bergerak sangat cekatan hal itu terjadi karena terdorong oleh nafsu. Santi melihat-lihat seluruh daftar judul film-film dewasa yang ada di komputer Andi dengan leluasa. Rasa penasarannya yang tinggi itu tidak mampu dia tahan untuk segera dipuaskan. Suasana yang sangat sepi itu sangat mendukung bagi Santi untuk melihat misteri dari film dewasa yang baru kali ini dia saksikan. Sementara itu, daftar film yang ada dikomputer Andi terbilang lumayan lengkap. Mulai dari film lesbian, beastility, hingga kartun dewasa semuanya tersedia lengkap.

Sesekali Santi melihat ke arah Andi yang masih tertidur lelap di sampingnya. Dia juga sesekali melirik ke arah gundukan memanjang di bawah perut milik Andi. Karena sudah dikuasai hawa nafsu dan rasa penasaran yang tinggi, sesaat timbul keinginan di kepala Santi untuk mencoba memegang burung Andi yang masih tertutup celana kolor pendeknya. Awalnya ragu takut Andi terbangun, tapi akibat rasa penasarannya terlalu tinggi akhirnya Santi pun tiba-tiba nekad.

Sambil menikmati adegan mesum film dewasa yang dia tonton, tangan kanannya nekad meraba-raba celana kolor yang dikenakan Andi. Jari-jemari tangan kanannya yang mungil itu dapat segera menemukan adanya sebuah gundukan memanjang di balik celana kolor Andi. Santi merasa beruntung ketika mendapati Andi ternyata tidak mengenakan celana dalam saat itu sehingga tangannya dengan jelas dapat merasakan batang kemaluan milik Andi yang sudah mengeras di balik celana.

Masih penasaran, Santi semakin berani, gadis itu nekad menelusupkan tangan kanannya masuk ke dalam celana Andi yang agak kendor melalui salah satu celah di paha Andi. Dengan mudah, Santi menemukan sebuah benda yang sudah menegang dan keras yang tak lain adalah kemaluan Andi. Dibelai-belainya benda itu untuk memuaskan rasa penasarannya bagaimana sensasi ketika memegang burung milik seorang laki-laki dewasa.
Santi semakin bergairah, terasa celana dalamnya semakin membasah. Bahkan gadis muda itu semakin gemas dengan burung Andi yang terasa berkedut-kedut. Ditambah tontonan film yang mengadegankan mengulumi kemaluan milik lelaki, Santi menjadi tergoda untuk menirunya. Hasrat birahinya sudah menggelapkan kesadaran Santi akan situasinya. Dengan sigap, celana kolor Andi sedikit diturunkan hingga terlihat batang burungnya tanpa takut sepupunya itu terbangun. Sejenak dia amati burung Andi yang tampak menegang dan besar itu. Kemudian, sleepppp…. Santi nekad memasukkan burung tersebut ke dalam mulutnya yang masih mungil.
Entah apa yang dirasakan Santi saat berhasil mengulum burung Andi, yang pasti mulutnya yang mungil itu seakan tidak pernah puas menikmati tegangnya burung Andi saat di dalam mulutnya. Sambil sesekali menyaksikan film di depannya, Santi mengulum burung Andi seperti yang ada di dalam film tersebut.
Andi mendadak kembali sadar dari tidurnya, terasa ada sesuatu yang sangat nikmat sedang menjalar di seluruh batang kemaluannya, hangat, lembut, dan basah. Andi terkejut karena ulah Santi, tapi karena rasanya sangat enak, Andi berpura-pura masih tertidur lelap. Santi tidak menyadari jika Andi sebenarnya terbangun dari tidurnya. Saking enjoy-nya, Santi terus saja mengemuti dan menghisap-isap burung Andi seraya terus menonton film dewasanya.

Andi pun tak ingin melewatkan kesempatannya untuk memuaskan rasa penasarannya terhadap Santi. Sejak awal Andi sangat penasaran bagaimana rasanya kemaluan seorang gadis muda yang baru menginjak remaja itu jika sudah terbakar nafsu birahi. Dengan perlahan, berpura-pura seperti orang sedang menggeliat, tangan kanan Andi bergerak menelusup langsung ke dalam rok Santi yang agak tersingkap. Tanpa dibimbing, jari jemari tangan Andi sudah berhasil meraba-raba sekitar selangkangan Santi.

Beruntung bagi Andi, dijumpai celana dalam milik gadis mungil itu rupanya sudah miring dan tampak longgar. Kebetulan, pikir Andi, jari-jemarinya tidak menemui kesulitan menjelajahi sekitar selangkangan Santi. Hingga akhirnya, tak sampai hitungan menit kemaluan Santi telah tergapai oleh jari telunjuk Andi.
Awalnya Santi agak kaget, tapi karena saudaranya itu bereaksi menyenangkan dirinya, maka Santi membiarkan jari-jemari Andi bergerak leluasa menyentuh segala sisi selangkangannya hingga termasuk menjamahi bagian kemaluannya.

“Ahh..!” desah Santi saat merasakan jemari Andi telah sampai di kemaluannya. Antara terkejut karena baru pertama kali terdapat tangan milik orang lain menjamah bagian vitalnya, juga keenakan karena organ vitalnya ternyata sedang dibelai-belai lembut.

Andi hanya bisa tersenyum di dalam hati, pria itu tidak berani membuka mata karena takut Santi menjadi malu. Hanya saja dia tidak pernah menyangka sebelumnya jika kemaluan seorang gadis yang baru menginjak usia remaja itu bisa sangat becek gara-gara nafsu birahinya memuncak akibat film dewasa. Tidak hanya itu, burungnya pun ikut terkena imbas akibatnya.

Tidak hanya penasaran dengan organ vital milik gadis sangat belia itu, Andi juga penasaran dengan wujud dada milik Santi. Dengan masih berpura-pura tidur, tangan kirinya bergerak perlahan menelusup masuk menggerayangi kulit pinggang Santi yang putih mulus dan halus itu.

Awalnya agak terganggu saat tangan kiri Andi mulai bergerak mengusap pinggangnya, namun karena muncul sensasi enak, maka Santi membiarkan pinggangnya dijamah. Gadis itu merasakan keenakan berulangkali saat pinggangnya dibelai-belai Andi. Santi yang baru kali ini digempur perasaan nikmat di segala sisi, membuat dirinya seakan-akan tersihir untuk terus menikmatinya tanpa penolakan. Bahkan membuatnya semakin semangat memainkan burung Andi sembari menikmati sensasi yang dirasakannya.

Gairahnya semakin memuncak saja manakala Andi mampu membuainya ke dalam kenikmatan yang semakin dalam. Diiringi dengan sentuhan jari di bagian klitorisnya dan juga usapan-usapan lembut di sekitar pinggang hingga punggungnya membuat Santi bereaksi seperti penari ular yang menari-nari secara erotis. Rabaan demi rabaan tangan Andi seakan-akan mampu menyihir kesadaran Santi agar terus terbuai ke dalam dunia birahi.

Rasa penasaran Andi untuk merasakan bentuk wujud dan kekenyalan payudara milik seorang gadis yang masih sangat belia seperti Santi tak berselang lama berhasil terpuaskan. Meskipun Andi tidak dapat melihatnya secara langsung, akan tetapi dia dapat merasakan bagaimana bentuk dan rasa kekenyalan payudara milik gadis muda itu melalui usapan jari jemari dan telapak tangan kirinya.

Andi merasakan dengan seksama bagian payudara Santi. Melalui jari-jemarinya yang bergerak lincah bak menari-nari, dia berusaha mencari-cari putingnya. Andi menemukan bagian tersebut seakan hendak mencuat keluar dari tempatnya saking terangsangnya gadis itu. Andi juga segera mengetahui kisar besaran bulatan payudara Santi. Gadis yang baru memasuki usia remaja itu memiliki bulatan buah dada hanya sebesar setengah belahan bola tenis, tapi kekenyalannya sudah cukup dapat dirasakan dengan jelas.

Adapun sensasi sentuhan tangan Andi di sekitar dadanya menimbulkan perasaan geli bercampur nyaman, sehingga membuat Santi semakin pasrah dan tidak lagi merasa risih manakala seluruh tubuhnya dijamah hendak diusap-usap oleh Andi. Bahkan saking gelinya memaksa Santi seringkali menggelinjang kegelian. Tidak hanya itu, gempuran jari telunjuk Andi yang sedari tadi bergerak-gerak lincah di klitoris Santi semakin membuatnya takluk terbuai kenikmatan. Andi semakin gemas manakala hingga terdengar suara seperti decakan-decakan akibat saking basahnya vag|na Santi yang terus di-jawil jari Andi. Berulangkali Santi terpaksa dibuat menggelinjang sembari mendesah berat saat kegeliannya memuncak berulang-ulang tak tertahan di sekitar selangkangannya.

Gadis belia itu semakin tidak sadarkan diri larut di dalam lautan kenikmatan. Sesekali dia melihat adegan film yang masih berjalan, sesekali pula mengocok-ngocok kemaluan Andi saat dirinya dibuat kegelian yang amat sangat. Mendadak Santi berinisiatif mengubah posisinya.

Suara kokok ayam semakin jelas. Tampaknya hari semakin menjelang pagi. Meski demikian di dalam kamar Andi seakan-akan hanya terdengar desahan-desahan nafas berat yang saling bersahutan dari kedua insan yang sudah dikuasai hasrat birahi. Santi tampaknya semakin dipengaruhi oleh adegan-adegan panas yang dimainkan di dalam film itu. Keinginannya meniru seperti di dalam adegan panas itu semakin kuat dan semakin mengganggu pikirannya. Rasa penasarannya untuk bisa menikmati apa yang dinamakan hubungan seksual semakin tinggi, Santi sudah tidak lagi memperhatikan usianya yang masih sangat belia dalam hal ini. Maka semuanya tergantung dari Andi.

Sambil sesekali melihat ke arah film di komputer Andi, Santi memposisikan dirinya hendak menindih Andi. Namun sejenak dia sedikit ragu. Melihat situasi seperti itu, Andi mengerti jika Santi masih terdapat rasa malu-malu. Sehingga segera dibimbingnya secara perlahan dengan menggunakan kedua tangannya untuk menuntun tubuh Santi agar tidak ragu-ragu lagi memenuhi hasrat penasarannya. Santi menjadi agak tenang dan merasa kembali bersemangat. Tanpa ragu-ragu seperti yang dia lihat di film dewasa itu, Santi melucuti celana dalamnya sendiri. Setelah itu giliran menurunkan celana kolor Andi hingga ke tengah pahanya.

Sesaat Santi kembali terpaku. Dia menjadi sedikit deg-degan begitu melihat burung Andi yang bentuknya sudah sangat besar dan memanjang kaku. Tapi hasratnya juga sudah amat tinggi untuk segera menikmati bagaimana rasanya menempelkan kemaluannya yang sudah gatal di sekujur burung milik Andi itu.
Begitu melihat wajah Andi yang masih terpejam, Santi nekad cepat-cepat ingin merasakannya. Dengan segera, kaki kanannya diangkat untuk bisa duduk di atas tubuh Andi yang tengah telentang. Kemaluannya yang sudah sangat basah itu cepat-cepat disandarkannya tepat di mana burung Andi tengah berdiri kaku.
“Ouh..” Baik Andi dan Santi sama-sama spontan melenguh. Keduanya sama-sama dibuat terkejut saat masing-masing kemaluannya mulai bertemu menempel erat. Santi sengaja tepat mendudukkan pantatnya di atas burung Andi. Perasaan nikmat baru yang muncul semakin bertambah, rasanya semakin menggoda hati, membuat keduanya semakin betah berlama-lama dalam bercumbu.

Ketika kedua kemaluan yang berlainan jenis itu saling bersentuhan, nikmat yang dirasakan oleh keduanya bisa jadi berbeda. Santi didorong perasaan penasaran yang sangat kuat di dalam dirinya untuk menikmati sensasi burung milik seorang laki-laki di kemaluannya. Sedangkan Andi sendiri begitu penasaran dengan vag|na gadis cilik itu yang sudah sangat basah.

Karena masih pertama dalam hidupnya, Santi seperti takut-takut menjajaki kenikmatannya. Perlahan tapi pasti selangkangannya yang kini sudah beradu dengan burung Andi mulai digerak-gerakkan dengan cara menggesek-gesek maju mundur. Otomatis vag|nanya yang sudah basah itu semakin jelas menerima gelitikan-gelitikan akibat pergesekan dengan sekujur burung Andi yang keras itu.

Serangkaian sensasi nikmat yang tak terkira timbul seiring dengan gesekan vag|nanya di sekujur batang burung milik Andi. Semakin lama Santi bertambah keranjingan dengan kenikmatannya, membuatnya menjadi tak sadarkan diri apabila bibir kemaluannya kini semakin terkuak membelah. Keadaan itu menambah geli saja di bagian permukaan vag|nanya. Lenguhan-lenguhan manja pun semakin kerap terdengar di telinga Andi, yang juga berakibat semakin memancing rasa gemasnya kepada Santi.

Sedangkan apa yang dirasakan Andi meskipun berbeda, akan tetapi kenikmatannya tak kalah tingginya. Di sekujur batang burungnya yang sangat menegang keras itu seakan-akan sedang diurut-urut dengan menggunakan suatu benda lunak yang sangat licin dan hangat. Rasanya klenyir-klenyir menggelikan.
Santi semakin tak sadarkan dirinya. Pinggulnya seakan-akan tak mampu lagi menahan beban seluruhnya dari pundaknya. Agar keseimbangannya terjaga, kedua tangan Santi langsung menumpu di dada Andi yang agak bidang itu. Sedangkan Andi meresponnya dengan memainkan kembali kedua tangannya menelusup nakal di balik kaos Santi. Kedua tangannya tidak menemui kesulitan yang berarti saat berusaha menjelajahi dada Santi. Kedua payudara milik Santi pun kembali dia temukan, penutup dada milik Santi yang sudah tidak beraturan posisinya sangat membantu Andi menemukan sepasang gundukan payudara ranum yang besarnya masih setengah bola tenis itu.

Begitu merasa bagian dadanya seakan ditahan oleh kedua tangan Andi, Santi merasa beban tubuhnya terkurangi sehingga semakin leluasa dia memusatkan gairahnya di bagian selangkangannya. Santi tidak pernah mengira sebelumnya apabila kenikmatan yang begitu tinggi ini bisa dia rasakan sekarang ini. Kedua matanya yang indah itu tidak lagi melihat film yang masih memutarkan adegan-adegan panasnya, melainkan sudah terpejam karena asyik meresapi berbagai sensasi enak yang dirasakannya.

Sedangkan Andi tidak kalah keranjingannya akibat permainan panas itu. Lelaki itu menikmati merdunya suara lenguhan kecil yang keluar dari bibir mungil milik Santi. Suara itu seakan-akan mampu menyihirnya agar terus mau memberikan kenikmatan yang tiada henti kepada Santi. Rintihan-rintihan manja itu seakan berharap kenikmatannya tidak akan putus hingga puncaknya.

Andi merasakan geli yang tak henti-hentinya manakala sekujur burungnya terus digeseki selangkangan Santi yang sudah membanjir. Sedangkan Santi sendiri dapat merasakan sensasi puncak kenikmatan pertamanya bakal segera muncul. Goyangan-goyangan pinggulnya semakin dipercepat, sedangkan jari jemari di kedua tangannya yang bertumpu di dada Andi semakin menegang agak mencengkeram. Lenguhan-lenguhan di bibirnya berubah menjadi rintihan-rintihan manja yang semakin cepat, nafasnya tampak semakin sengal dan putus-putus tidak beraturan. Suara decak yang diakibatkan oleh gesekan vag|nanya semakin jelas.

Andi melihat gerakan Santi keseluruhannya bagaikan seekor cacing yang sangat kepanasan di dalam penggorengan yang bara. Tubuhnya meliuk-liuk dengan sendirinya seiring dengan irama kenikmatan yang dirasakannya. Lelaki itu semakin gemas saja dengan gaya Santi yang semakin liar dan bersemangat. Tak pernah dia sangka jika pada hari itu dirinya bisa melihat seorang gadis yang masih berusia sangat belia sedang dikuasai hasrat birahi yang begitu besar. Rambutnya yang tadinya rapi sepinggang kini tampak berantakan tidak berupa, meski demikian di mata Andi malah memunculkan kesan sensual yang dapat menambah gairahnya. Belum lagi energi-energi liar yang entah bersumber dari mana yang dapat membuat tubuh gadis muda itu bergerak erotis tidak berpola. Peluh keringat yang tampak berkilat-kilat di sekitar tengkuk leher hingga dahi Santi menambah kesan di persepsi Andi bahwa gadis muda yang awalnya lugu dan polos itu kini benar-benar bermetamorfosis menjadi gadis yang sangat menggairahkan.

Terasa pula di kedua telapak tangan Andi yang sedari tadi sibuk menjamahi buah dada milik gadis belia tersebut bercampur dengan peluh keringatnya mengakibatkan remasan-remasannya menjadi licin.
Hingga tak lama kemudian….
“Aakhh… aakkhh… akkhhh..”

Terdengar beberapa kali lengkingan panjang dari mulut mungil Santi dan diiringi dengan kelejotan tubuhnya yang mengejang-ngejang kaku. Kedua kakinya yang sedari tadi mengangkang terbuka bebas, kini mendadak mengapit. Santi menjepitkan kedua pangkal pahanya kuat-kuat di pinggang Andi sembari berkelojotan. Sedangkan Andi hanya tampak sedikit kebingungan melihat reaksi mendadak Santi yang tiba-tiba berkelojotan tidak keruan. Ternyata setelah diamati seksama, Santi mengalami apa yang dinakan orgasme. Puncak kepuasan birahi pertama dalam hidupnya.

Seusai mengejang-ngejang beberapa saat, Andi melihat tubuh Santi sepertinya menjadi sedikit lemas. Dengan penuh perhatian, kedua tangan Andi bergerak membimbing pundak Santi dengan perlahan agar gadis itu bisa menenangkan diri sejenak di atas tubuhnya dengan posisi menelungkup. Santi terpaksa tidak malu-malu atau menolak bahkan dia sadar bahwa kebutuhan saat ini seusai orgasme pertamanya adalah istirahat.
“Keringatmu keluar banyak Dik..” kata Andi setengah berbisik sembari mengelus-elus punggung gadis itu.
“He ehm…” Santi menjawab seadanya.
“Mas singkap dikit yah biar sedikit ga kepanasan” tawar Andi penuh perhatian.

Santi tidak menjawab secara langsung tawaran Andi, dia hanya menggumam lirih dan menganggukkan kepalanya samar tanda setuju. Mendapat persetujuan dari gadis manis yang masih belia itu, maka dengan segera kedua tangannya bergerak sigap sedikit demi sedikit menyibakkan kaosnya ke atas agar punggungnya terbuka bebas dengan maksud agar gadis itu tidak kegerahan.

Sambil mengelus-elus lembut punggung Santi, Andi menikmati sensasi membasuh peluh-peluh keringat yang keluar di sekujur punggung Santi. Andi merasakan kehangatan dan licinnya punggung Santi yang melalui usapan demi usapan di sekujur tubuh gadis itu. Rambut hitam sepinggul panjangnya milik gadis itu pun disibakkan Andi agar tidak menutupi sekujur punggungnya yang putih mulus itu. Santi mendadak lega begitu merasakan hawa segar seakan-akan meniup tubuhnya yang terasa masih kegerahan.

Incoming search terms:

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *