Cerita Dewasa 2016 Ngentot Keponakan Sampai Orgasme

Cerita Dewasa 2016 Ngentot Keponakan Sampai Orgasme

Posted on

Cerita Dewasa 2016 Ngentot Keponakan Sampai Orgasme | Hobiku yang kental dengan angkat barbel dimana saat pagi hari selalu kuayunkan secara bergantian keringatku selalu mambasahi tubuhku aku perlihatkan dari cermin yang besarnya sama dengan pintuku semakin kekar otot dan tubuhku, aku sungguh bahagia karena obsesiku untuk mengekarkan tubuhku sedikt ada hasilnya.

Cerita Dewasa 2016 Ngentot Keponakan Sampai Orgasme Cerita Dewasa 2016 Ngentot Keponakan Sampai Orgasme Cerita Dewasa 2016 Ngentot Keponakan Sampai Orgasme Foto Bugil Cewek ABG Unyu Cina 15Cerita Dewasa 2016 Ngentot Keponakan Sampai Orgasme | Kuperhatikan jam telah menunjukan pukul 22:39 tepat. Ya, memang pada jam-jam seperti ini aku biasa olahraga berat untuk membentuk otot-otot di tubuhku. Suasana sepi dan udara sejuk sangat aku sukai. Kamar kost-ku di pinggirn utara kota Jogja memang menawarkan hawa dinginnya.

Cerita Dewasa 2016 Ngentot Keponakan Sampai Orgasme | Itulah sebabnya aku sangat betah kost di sini sejak resmi jadi mahasiswa hingga hampir ujian akhirku yang memasuki semester delapan ini.Sudah jadi kebiasaanku, aku selalu berolahraga dengan telanjang bulat, sehingga dapat kuperhatikan tubuhku sendiri lewat cermin itu yang kian hari kian tumbuh kekar dan indah. berkulit sawo matang gelap.

cerita dewasa 2016 Ngentot Keponakan Sampai Orgasme | Rambut kasar memenuhi hampir di seluruh kedua lengan tangan dan kaki serta dadaku yang membidang ke bawah, lebih-lebih pada daerah kemaluanku. Rambutnya tumbuh subur dengan batang zakarnya yang selalu terhangati olehnya.

Kuraba-raba batang kemaluanku yang mulai beranjak tegang ereksi ini. Hmm, ouh, mengasyikan sekali. Air keringatku turut membasahi batang zakar dan buah pelirku. Dengan sambil duduk di kursi plastik aku berfantasi seandainya ini dilakukan oleh seorang wanita.

Mengelus-elus zakarku yang pernah kuukur memiliki panjang 20 centimeter dengan garis lingkar yang 18 centimeter! Mataku hanya merem melek saja menikmati sensasi yang indah ini. Perlahan-lahan aku mulai melumuri batang zakarku dengan air liurku sendiri.

Kini sambil menggenggam batang zakar, aku terus menerus melakukan mengocok-ngocok secara lembut yang berangsur-angsur ke tempo cepat.Aku tengah menikmati itu semua dengan sensasiku yang luar biasa ketika tiba-tiba pintu kamar kost-ku diketok pelan-pelan.

Sial, aku sejenak terperangah, lebih-lebih saat kudengar suara cewek yang cukup lama sekali tak pernah kudengar.

“Mas, Mas Wid? Ini aku, Desi!”Desi? Adik sepupuku dari Pekalongan? Ngapain malam-malam begini ini datang ke Jogja? Gila! Buru-buru aku melilitkan kain handuk kecilku sambil memburu ke arah pintu untuk membukakannya.

“Desi?” ucapku sambil menggeser posisiku berdiri untuk memberi jalan masuk buat adik sepupuku yang terkenal tomboy ini.

Desi terus saja masuk ke dalam sambil melempar tas ranselnya dan lari ke kamar mandi yang memang tersedia di setiap kamar kost ini. Sejenak aku melongok keluar, sepi, hanya gelap di halaman samping yang menawarkan kesunyian.

Pintu kembali kututup dan kukunci. Aku hanya menghela nafasku dalam-dalam sambil memperhatikan tas ransel Desi.Tak berapa lama Desi keluar dengan wajah basah dan kusut. Rambutnya yang lebat sebahu acak-acakan.

Aku agak terkejut saat menyadari bahwa kini Desi hanya memakai kaos oblong khas Jogja. Rupanya ia telah melepas celana jeans biru ketatnya di kamar mandi. Kulit pahanya yang kuning langsat dan ketat itu terlihat jelas.

“Ada masalah apa lagi, hmm? Dapat nilai jelek lagi di sekolahan lalu dimarahi Bapak Ibumu?” tanyaku sambil mendekat dan mengelus rambutnya, Desi hanya terdiam saja. Anak SMU kelas dua ini memang bandel.

Mungkin sifat tomboynya yang membuat dirinya begitu. Tak mudah diatur dan maunya sendiri saja. Jadinya, aku ini yang sering kewalahan jika ia datang mendadak minta perlindunganku. Aku memang punya pengaruh di lingkungan keluarganya.

Desi hanya berdiri termangu di depan cermin olah ragaku. Walau wajahnya merunduk, aku dapat melihat bahwa dia sedang memandangi tubuhku yang setengah telanjang ini.”Lama ya Mas, Desi nggak ke sini.”

“Hampir lima tahun,” jawabku lebih mendekat lagi lalu kusadari bahwa lengan dan tangannya luka lecet kecil.”Berantem lagi, ya? Gila!” seruku kaget menyadari memar-memar di leher, wajah, kaki, dan entah dimana lagi.

“Desi kalah, Mas. Dikeroyok sepuluh cowok jalanan. Sakit semua, ouih. Mas, jangan bilang sama Bapak Ibu ya, kalau Desi kesini. Aduh…!” teriak tertahan Desi mengaduh pada dadanya.

“Apa yang kamu rasakan Ir? Dimana sakitnya, dimana?” tanyaku menahan tubuhnya yang mau roboh.Tapi dengan kuat Desi dapat berdiri kembali secara gontai sambil memegangi lenganku.

“Seluruh tubuhku rasanya sakit dan pegal semua, Mas, ouh!”

“Biar Mas lihat, ya? Nggak apa-apa khan? Nggak malu, to?” desakku yang terus terang aku sudah mulai tergoda dengan postur tubuh Desi yang bongsor ketat. Desi hanya mengangguk kalem.

“Ah, Mas Wid. Desi malah pengin seperti dulu lagi, kita mandi bareng… Desi kangen sama pijitan Mas Wid!” ujar Desi tersenyum malu.Edan! Aku kian merasakan batang kemaluanku mengeras ketat.

Dan itu jelas sekali terlihat pada bentuk handuk kecil yang menutupinya, ada semacam benda keras yang hendak menyodok keluar.

Dan Desi dapat pula melihatnya! Perlahan kulepas kaos oblong Desi. Sebentar dirinya seperti malu-malu, tapi kemudian membiarkan tanganku kemudian melepas BH ukuran 36B serta CD krem berenda ketatnya.

Aku terkejut dan sekaligus terangsang hebat. Di tubuh mulusnya yang indah itu, banyak memar menghiasinya. Aku berjalan memutari tubuh telanjangnya.Dengan gemetaran, jemariku menggerayangi wajahnya, bibirnya, lalu leher dan terus ke bawahnya.

Cukup lama aku meraba-raba dan mengelus serta meremas lembut buah dadanya yang ranum ini. “Mas Wid… enak sekali Mas, teruskan yaaa… ouh, ouh..!” pinta mulut Desi sambil merem-melek. Mulutku kini maju ke dada Desi.

Perlahan kuhisap dan kukulum nikmat puting susunya yang coklat kehitaman itu secara bergantian kiri dan kanannya. Sementara kedua jemari tanganku tetap meremas-remas kalem dan meningkat keras. Mulut Desi makin merintih-rintih memintaku untuk berbuat lebih nekat dan berani.

Desi menantangku, sedotan pada puting susunya makin kukeraskan sambil kuselingi dengan memilin-milin puting-puting susu tersebut secara gemas.”Auuuh, aduh Mas Wid, lebih keras… lebih kencang, ouh!” menggelinjang tubuh Desi sambil berpegangan pada kedua pundakku.

Puting Desi memang kenyal dan mengasyikan. Kurasakan bahwa kedua puting susu Desi telah mengeras total. Aku merendahkan tubuhku ke bawah, mulutku menyusuri kulit tubuh bugil Desi, menyapu perutnya dan terus ke bawah lagi.

Rambut kemaluan Desi rupanya dicukur habis, sehingga yang tampak kini adalah gundukan daging lembut yang terbelah celah sempitnya yang rapat. Karuan lagi saja, mulutku langsung menerkam bibir kemaluan Desi dengan penuh nafsu.

Aku terus mendesakkan mulutku ke dalam liang kemaluannya yang sempit sambil menjulurkan lidahku untuk menjilati klitorisnya di dalam sana. Desi benar-benar sangat menggairahkan. Dalam masalah seks, aku memang memliki jadwal rutin dengan pacarku yang dokter gigi itu.

Dan kalau dibandingkan, Desi lebih unggul dari Sinta, pacarku. Mulutku tidak hanya melumat-lumat bibir kemaluan Desi, tapi juga menyedot-nyedotnya dengan ganas, menggigit kecil serta menjilat-jilat.Tanpa kusadari kain handukku terlepas sendiri.

Aku sudah merasakan batang kemaluanku yang minta untuk menerjang liang kemaluan lawan. Karuan lagi, aku cepat berdiri dan meminta Desi untuk jongkok di depanku. Gadis itu menurut saja. “Buka mulutmu, Dik.

Buka!” pintaku sambil membimbing batang kemaluanku ke dalam mulut Desi. Gadis itu semula menolak keras, tapi aku terus memaksanya bahwa ini tidak berbahaya. Akhirnya Desi menurut saja. Desi mulai menyedot-nyedot keras batang kemaluanku sembari meremas-remas buah zakarku.

Ahk, sungguh indah dan menggairahkan. Perbuatan Desi ini rupanya lebih binal dari Sinta. Jemari Desi kadangkala menyelingi dengan mengocok-ngocok batang kemaluanku, lalu menelannya dan melumat-lumat dengan girang.

“Teruskan Dik, teruskan, yeeeahh, ouh… ouh… auh!” teriakku kegelian. Keringat kembali berceceran deras. Aku turut serta menusuk-nusukan batang kemaluanku ke dalam mulut Desi, sehingga gadis cantik ini jadi tersendak-sendak.

Tapi justru aku kian senang. Kini aku tak dapat menahan desakan titik puncak orgasmeku. Dengan cepat aku muntahkan spermaku di dalam mulut Desi yang masih mengulum ujung batang kemlauanku.

“Crooot… creet… crret…!””Ditelan Dik, ayo ditelan habis, dan bersihkan lepotannya!” pintaku yang dituruti saja oleh Desi yang semula hendak memuntahkannya. Aku sedikit dapat bernafas lega. Desi telah menjilati dan membersihkan lepotan air maniku di sekujur ujung zakar.

“Maaasss, ouh, rasanya aneh…!” ujar Desi sambil kuminta berdiri. Sesaat lamanya kami saling pandang. Kami kemudian hanya saling berpelukan dengan hangat dan mesra. Kurasakan desakan buah dadanya yang kencang itu menggelitik birahiku kembali.

“Ayo Dik, menungging di depan cermin itu!” pintaku sambil mengarahkan tubuh Desi untuk menungging. Desi manut. Dengan cepat aku terus membenamkan batang kemaluanku ke liang kemaluan Desi lewat belakang dan melakukan gerakan maju mundur dengan kencang sekali.

“Aduuh, auuh… ouh.. ouh… aaah… ouh, sakit, sakit Mas!” teriak-teriak mulut Desi merem-melek. Tapi aku tak peduli, adik sepupuku itu terus saja kuperkosa dengan hebat.

Sambil berpegangan pada kedua pinggulnya, aku menari-narikan batang kemaluanku pada liang kemaluan Desi.

“Sakiiit… ouhh…!””Blesep… slep… sleeep…” suara tusukan persetubuhan itu begitu indah.Desi terus saja menggelinjang hebat.Aku segera mencabut batang kemaluanku, membalikkan posisi tubuh Desi yang kini telentang dengan kedua kakinya kuminta untuk melipat sejajar badannya.

Sementara kedua tangannya memegangi lipatan kedua kakinya. Kini aku bekerja lagi untuk menyetubuhi Desi.

“Ouuh… aaahhk… ouh… ouh…!”Dengan menopang tubuhku berpegangan pada buah dadanya, aku terus kian ganas tanpa ampun lagi menikam-nikam kemaluan Desi dengan batang kemaluanku.

“Crrrooot… cret… creet…!”Menyemprot air mani zakarku di dalam liang kemaluan Desi. “Maaas… ouuuh… aduh… aaahk!” teriak Desi yang langsung agak lunglai lemas, sementara aku berbaring menindih tubuh bugilnya dengan batang kemaluanku yang masih tetap menancap di dalam kemaluanya.

“Dik Desi, bagaimana kalau adik pindah sekolah di Jogja saja. Kita kontrak satu rumah… hmm?” tanyaku sambil menciumi mulut tebal sensual Desi yang juga membalasku. “Desi sudi-sudi saja, Mas. Ouh…” Entah, karena kelelehan kami, akhirnya tidur adalah pilihannya. Aku benar-benar terlelap.

Incoming search terms:

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *